Pamekasan – Tingginya angka Kematian yang dialami ibu dan bayi pasca persalinan di Kabupaten Pamekasan menuai sorotan dari Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Pamekasan. Hal itu dinilai menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama.
Ketua DPRD Kabupaten Pamekasan, Ali Masykur, mengatakan bahwa kejadian ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Apa lagi selama 2025 angka Kematian tercatat sebanyak 17 kasus.
“Kejadian ini harusnya dapat ditekan melalui peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak, serta penguatan sistem rujukan medis. Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan terus terjadi,” terangnya (14/3/2026).
Menurut dia, harus ada pembahasan bersama untuk mengurai segala penyebab yang mengakibatkan tingginya kematian ibu dan bayi pasca persalinan.
Selain itu, seluruh Fasilitas Kesehatan (Faskes) diharapkan mampu mengetahui secara detail riwayat dan kondisi pasien utamanya ibu hamil yang hendak melahirkan. Langkah ini dipercaya menjadi salah satu langkah untuk meminimalisir angka kematian ibu dan bayi pasca melahirkan.
Berdasarkan kasus yang terjadi kematian didominasi oleh hipertensi dan pendarahan yang terjadi pada pasien. Selain itu,enurut laporan yang diterima hal itu juga terjadi akibat dari bebepa faktor, seperti, lambatnya penanganan medis, kurangnya pantauan kesehatan ibu pasca persalinan, dan keterbatasan akses kesehatan di beberapa wilayah.
Tak hanya itu, Ali Masykur menambahkan, perlu adanya pengawasan ketat terhadap sejumlah fasilitas kesehatan. Termasuk kesiapan tenaga medis dan peralatan medis yang memadai untuk menangani komplikasi persalinan.
“Kami berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret untuk menekan angka Kematian ibu dan bayi pasca melahirkan,” tutupnya. (Rosy)
























