Jakarta – Nuansa budaya Madura mewarnai proses pendaftaran Calon Ketua Umum Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN). Slamet Ariyadi politisi muda asal Madura tampil berbeda dibandingkan kandidat, ia menghadirkan sentuhan adat dan kearifan lokal yang sarat akan makna kerakyatan.
Slamet Ariyadi tiba di Sekretariat Pendaftaran Calon Ketua Umum BM PAN pada pukul 14.12 WIB dengan konsep sederhana namun penuh filosofi. Ia mengenakan sarung khas Madura, dilengkapi songkok nasional seolah ia merepresentasikan identitas dan kesederhanaan masyarakat, dipadukan dengan jaket resmi BM PAN serta kaos bergambar Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan.
Suasana semakin semarak saat ia datang diiringi pelaku UMKM seperti penjual bakso, siomay, kopi keliling (starling), hingga pedagang asongan. Tak ketinggalan, para pengemudi ojek online (Ojol) serta komunitas seni budaya seperti marching band turut meramaikan prosesi. Kehadiran cosplay Power Rangers dan Naruto pun mencuri perhatian publik.
Slamet Ariyadi mengatakan, konsep tersebut sengaja dihadirkan sebagai simbol bahwa politik harus kembali membumi dan dekat dengan rakyat.
“Ini bukan sekadar seremoni. Saya ingin membawa pesan bahwa budaya lokal seperti Madura harus hadir di panggung nasional. Kita tidak boleh meninggalkan akar kita sebagai bangsa yang kaya akan tradisi,” ujar Slamet.
Ia menambahkan, kehadiran pelaku UMKM dan ojol bukan hanya sebagai pelengkap, melainkan representasi dari kelompok yang harus diperjuangkan.
“UMKM adalah tulang punggung ekonomi rakyat. Ojol adalah wajah perjuangan ekonomi hari ini. BM PAN ke depan harus benar-benar menjadi rumah bagi mereka, bukan hanya bicara politik di atas meja,” tegasnya.
Dalam proses pendaftaran, Slamet Ariyadi didampingi tim sukses dan para pendukung dari berbagai daerah serta membawa 12 surat dukungan dari DPW BM PAN.
Kedatangannya disambut oleh jajaran panitia Kongres VII BM PAN yang akan digelar pada 10–12 Juli 2026 di Hotel Marbella Anyer.
Dengan mengangkat budaya Madura sebagai identitas, Slamet Ariyadi tidak hanya menawarkan diri sebagai calon pemimpin, tetapi juga membawa misi besar yang tak lain akan menjadikan kearifan lokal sebagai fondasi dalam membangun organisasi kepemudaan yang kuat, inklusif, dan berpihak kepada rakyat. (KB/Rosy)
















