Pamekasan – Dokter Spesialis Paru RSUD Slamet Martodirdjo (Smart) Pamekasan, dr. Muhammad Khairani, memeberikan penjelasan penyebab penyakit asma. penyakit asma tidak hanya disebabkan adanya faktor genetik, tetapi juga dipicu berbagai faktor lain yang berkaitan dengan kondisi tubuh dan lingkungan.
Hal itu ia sampaikan saat mengisi kegiatan Smart Health bertajuk kupas tuntas seputar Asma yang disiarkan langsung di Ralita FM Pamekasan, Jumat (8/5/2026).
Khairani menjelaskan, penyakit asma sebenarnya penyakit heterogen yang ditandai dengan beragam gejala, seperti batuk, sesak nafas hingga nyeri dada dengan intensitas dan waktu kemunculan yang bervariasi.
Penyakit asma juga dapat menyerang semua kalangan atau kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
“Asma ini bisanya diikuti dengan peradangan dari saluran nafas yang disebabkan hal-hal tertentu atau reaksi. Reaksi tersebut seperti alergi yang menyebabkan penyempitan di saluran pernafasan,” jelasnya.
Secara umum, lanjut Khairani, asma sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, tetapi bukan pasti genetik. Misalnya, jika orang tuanya mempunyai penyakit asma, maka anaknya asma. Akan tetapi, karena faktor genetik tersebut, resiko pada anaknya untuk terjadi asma sangat tinggi, hal itu berkaitan erat dengan respon tubuh yang sangat sensitif.
Selain faktor genetik, penyakit asma juga dipengaruhi oleh faktor fenotip atau kondisi tertentu yang juga dapat memicu asma, seperti varian asma batuk maupun asma saat kehamilan.
“Asma tidak hanya disebabkan karena faktor genetik saja, asma itu juga disebabkan oleh fenotif dari asma, seperti asma dari varian batuk, asma ke kehamilan dan lainnya,” imbuhnya.
Kemudian saat penyakit asma kambuh, respon tubuh mengalami inflamasi atau peradangan pada saluran pernapasan. Kondisi itu menyebabkan otot yang ada di dalam saluran pernafasan mengalami pembengkakan, sehingga menjadi sempit dan membuat penderita penyakit kesulitan mengeluarkan napas.
Oleh sebab itu, untuk mengatasi penyempitan tersebut, perlu diberikan obat-obatan yang berfungsi meredakan atau melebarkan saluran pernapasan. Namun, penggunaan obat saja tidak cukup jika faktor pencetus tidak dihindari.
“Belum banyak diketahui bahwa banyak masyarakat mengira ketika sudah minum obat-obatan sudah dianggap sembuh, padahal masalah itu belum selesai, karena penyakit tersebut ada faktor-faktor yang mempengaruhi, seperti reaksi alergi dan lainnya. Jadi, obat utama itu untuk menghindari faktor pencetusnya, misalkan karena debu yang membuat sesak,” urainya.
Khairani juga meluruskan anggapan masyarakat bahwa penyakit asma kambuh bukan karena faktor malam hari atau saat cuaca dingin. Tetapi, penyakit itu kambuh dipengaruhi karena faktor pencetusnya, baik debu atau asap, meski secara hormonal gejala memang lebih sering muncul pada malam hari. (Farid/Rosy)
















