Scroll untuk melanjutkan membaca
Opini

Merawat Nafas Buku di Era Digital; Refleksi Hari Buku Nasional 2026

Avatar
×

Merawat Nafas Buku di Era Digital; Refleksi Hari Buku Nasional 2026

Sebarkan artikel ini
Ach. Syarofi, M.Pd (Foto/Dok terukur.id)

Setiap tanggal 17 Mei menjadi momentum untuk memperingati Hari Buku Nasional. Media sosial selalu dibanjiri infografis estetik, kutipan tokoh dunia tentang pentingnya membaca, hingga pameran buku dengan diskon menggiurkan. Namun, setelah euforia seremonial itu usai besok hari, sebuah pertanyaan klise namun menyakitkan kembali mengetuk pintu kesadaran kita: sejauh mana buku benar-benar hidup dalam kehidupan sehari-hari? Data peringkat literasi Indonesia yang berada di papan bawah selalu disuguhkan. Argumen yang paling sering muncul adalah “masyarakat kita malas baca.” Namun, benarkah demikian?

Jika kita perhatikan gawai orang-orang di sekitar, mereka tidak pernah berhenti membaca—mulai dari utas panjang di Twitter (X), pesan berantai di WhatsApp, hingga takarir (caption) gosip di Instagram. Artinya, masyarakat kita tidak antipati terhadap teks. Tantangan terbesarnya adalah mengalihkan fokus dari membaca sekilas (skimming) informasi yang superfisial, menjadi membaca mendalam (deep reading) yang ditawarkan oleh lembaran buku, lalu menuangkannya kembali dalam bentuk tulisan. Lantas, bagaimana kita bisa benar-benar membangkitkan minat baca-tulis ini dari para generasi saat ini?

1. Rekontruksi Persepsi: Membaca adalah “Tugas Suci”

Kekeliruan terbesar kita selama ini adalah menempatkan buku di atas menara gading yang kaku. Sejak sekolah, membaca sering kali dikaitkan dengan tugas, ujian, dan beban akademis. Buku dianggap sebagai sesuatu yang berat dan membosankan.

Untuk membangkitkan minat, yang paling utama adalah harus memanusiakan aktivitas membaca.

BACA JUGA :  5 Rekomendasi Beasiswa untuk Mahasiswa on Going, dari Bantuan UKT hingga Peluang Magang

Membaca adalah proses dialogis manusia. Melalui proses membaca, manusia tidk hanya melahirkan gagasan, tetapi juga memperluas wawasan. Selain itu, membaca menjadi sarana untuk membentuk empati & daya kritis seseorang.

Membaca saat ini harus bertransformasi menjadi sebuah kebutuhan, bahkan gaya hidup. Biarkan anak-anak atau masyarakat memulai dari apa yang mereka sukai—apakah itu komik, novel populer, biografi tokoh olahraga, atau buku resep makanan. Jangan ada penghakiman (judging) terhadap jenis bacaan. Sebab, rasa cinta pada buku tumbuh dari rasa senang, bukan paksaan. Langkah seperti ini menjadi pondasi utama untuk membangun generasi yang gemar membaca setiap hari.

2. Membangun “Ekosistem Menulis” dari Apa yang Dibaca

Tidak bisa dipungkiri, literasi adalah jalan dua arah yang tak bisa dipisahkan: membaca (menyerap) dan menulis (mengeluarkan). Minat baca yang tinggi akan menguap begitu saja jika tidak diimbangi dengan ruang untuk mengekspresikan pikiran. Menulis tidak harus langsung menjadi opini ilmiah atau novel tebal. Kita bisa merangsang budaya menulis lewat hal-hal sederhana, seperti membuat ulasan buku (book review) singkat di media sosial, menulis buku harian, atau berdiskusi di komunitas membaca. Ketika seseorang merasakan kepuasan saat berhasil merangkai gagasannya sendiri dalam bentuk tulisan, di situlah candu literasi yang sesungguhnya dimulai. Hal yang demikian memang tak langsung nampak hasilnya, tapi lambat laun, akan membuka ruang untuk bisa menumbuhkan ekosistem menulis yang produktif.

BACA JUGA :  Ketika Dunia Tengah Porak-Poranda, Kita Dimana?

Dunia terus bergerak dengan sangat cepat, dan manusia mudah sekali melupakan banyak hal. Maka, tulisan adalah cara terbaik untuk mengabadikannya. Saat kita menulis, kita sedang meninggalkan jejak kaki sejarah bagi generasi masa depan. Jangan pernah minder untuk menulis, menulis tidak menuntut Anda untuk langsung menjadi penulis hebat. Mulailah dengan menulis dari apa yang Anda rasakan, yang diketahui, dan yang ingin disampaikan kepada dunia. Karena pada akhirnya, sebuah tulisan akan selalu menemukan pembacanya sendiri.

3. Aksesibilitas, Bukan Sekadar Kampanye

Kita tidak bisa menyuruh anak-anak di daerah pelosok atau pinggiran kota untuk “gila membaca” jika akses mendapatkan buku berkualitas masih menjadi barang mewah. Membangkitkan literasi berarti memperbanyak ruang baca publik yang ramah, menghidupkan kembali perpustakaan desa, dan mendukung komunitas-komunitas pojok baca bergerak yang menjemput bola langsung ke masyarakat. Literasi harus hadir di tempat orang-orang berkumpul, bukan hanya bersembunyi di gedung perpustakaan daerah yang sunyi dan formal. Jika perpustakaan nasional dan daerah masih mengidentifikasikan dirinya hanya sebagai “gudang penyimpanan buku fisik” yang kaku, sunyi, dan penuh birokrasi, maka tampa disadari lembaga ini sedang berjalan menuju kepunahan kultural. Perpustakaan saat ini harus bertransformasi. Strategi yang dibutuhkan bukan sekadar menyediakan komputer atau mendigitalkan buku menjadi PDF (yang sering kali berakhir tidak dibaca), melainkan menjadi ruang publik yang inklusif, estetis, dan nyaman—menjadi ruang ketiga setelah rumah dan tempat kerja/sekolah. Ia harus menjadi pusat komunitas di mana gagasan diuji, ruang di mana diskusi, bedah buku, dan pelatihan menulis diadakan secara berkala.

BACA JUGA :  Makan Bergizi Gratis atau Makan Berbahaya Gratis?

Untuk itu, Hari Buku Nasional tidak boleh hanya menjadi ajang nostalgia tahunan atau sekadar menatap tumpukan buku yang belum dibaca. Menghidupkan minat baca-tulis adalah kerja kebudayaan yang panjang. Ia dimulai dari diri kita sendiri hari ini: dengan menutup aplikasi video pendek selama 15 menit, membuka satu bab buku yang sudah lama berdebu di rak, lalu menuliskan satu atau dua kalimat refleksi tentang apa yang kita dapatkan hari ini. Sebab, dari coretan-coretan kecil di sudut halaman itulah, peradaban sebuah bangsa yang besar sedang dirawat agar tidak mati muda.

Selain itu, mari jadikan momentum kali ini sebagai titik balik untuk menyalakan kembali cahaya literasi di lingkungan terkecil kita, yakni keluarga dan masyarakat. Tumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini, karena setiap buku yang dibuka adalah satu langkah menuju masa depan yang lebih cerah.

Oleh : Ach. Syarofi, M. Pd (Kepala Perpustakaan STAIFA Pamekasan & dosen PBA UIN Madura)
IMG-20260504-WA0013
previous arrow
next arrow