Scroll untuk melanjutkan membaca
Artikel

Perspektif “Sultan Madura” dalam Menaikkan Harga Tembakau

Avatar
×

Perspektif “Sultan Madura” dalam Menaikkan Harga Tembakau

Sebarkan artikel ini

Oleh: Achmarul Fajar, SE.,MM
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Madura

Kenaikan harga tembakau di Madura sebagai fenomena ekonomi yang tidak dapat dipahami semata-mata sebagai hasil dinamika mekanisme pasar. Dibalik dinamika tersebut, terdapat peran aktor-aktor lokal yang memiliki pengaruh kuat dalam mengonstruksi nilai, mengatur distribusi, serta membentuk ekspektasi pasar.

Scroll untuk melanjutkan membaca
Scroll untuk melanjutkan membaca

Salah satu figur yang kerap disebut sebagai “Sultan Madura” merepresentasikan kekuatan informal yang beroperasi dalam ruang ekonomi-politik lokal, khususnya dalam rantai komoditas tembakau yang bersifat padat karya dan bernilai strategis.

Dalam perspektif ekonomi politik, kenaikan harga tembakau mencerminkan interaksi antara kekuatan pasar, struktur kekuasaan, dan jaringan sosial yang terbangun di tingkat lokal.

“Sultan Madura” tidak hanya berfungsi sebagai pelaku usaha, tetapi juga sebagai broker sosial-ekonomi yang mampu menjembatani kepentingan petani, pedagang, dan industri.

Melalui kontrol terhadap informasi pasar, akses distribusi, serta kapasitas mobilisasi modal, figur ini memiliki peran signifikan dalam mempengaruhi pembentukan harga, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Lebih jauh, dalam konteks sosiologi ekonomi, keberadaan “Sultan Madura” dapat dipahami sebagai manifestasi dari embeddedness ekonomi, di mana aktivitas ekonomi melekat kuat pada relasi sosial dan budaya setempat.

Kepercayaan (trust), patronase, dan jaringan kekerabatan menjadi instrumen penting dalam memperkuat posisi tawar petani sekaligus menjaga stabilitas harga di tengah fluktuasi pasar nasional dan global.

Hal ini menjadikan kenaikan harga tembakau tidak hanya sebagai fenomena ekonomi, tetapi juga sebagai hasil dari rekayasa sosial yang berbasis pada modal sosial dan kepemimpinan lokal.

Dengan demikian, narasi mengenai kenaikan harga tembakau di Madura perlu ditempatkan dalam kerangka analisis yang lebih komprehensif, yang tidak hanya menyoroti aspek permintaan dan penawaran, tetapi juga mempertimbangkan peran aktor kunci seperti “Sultan Madura” dalam membentuk struktur pasar.

Pendekatan ini penting untuk memahami bagaimana kekuatan lokal dapat berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan petani sekaligus menciptakan dinamika baru dalam ekonomi komoditas daerah.

a. Struktur Ekonomi Tembakau Madura

Secara struktural, tembakau dapat dikategorikan sebagai komoditas strategis di wilayah Madura karena memiliki karakteristik ekonomi unik dari segi produksi, distribusi, dan hubungan sosial-ekonomi yang terbentuk.

Pertama, tembakau—khususnya di sektor pertanian—merupakan komoditas unggulan di daerah karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan merupakan salah satu sumber pendapatan utama masyarakat.

Dalam kerangka ekonomi regional, komoditas ini berfungsi sebagai sektor utama yang mendorong sektor lain, sepertiperdagangan, transportasi, dan industri pengolahan.

Kedua, seluruh proses produksi tembakau, mulai dari penanaman, pemeliharaan, panen, hingga pengolahan pascapanen, sangat bergantung pada tenaga kerja manusia. Ini dikenal sebagai industri tembakau yang padat karya atau padatkarya.

Tembakau memainkan peran penting dalam meningkatkan tenaga kerja lokal dan mengurangi pengangguran di daerah pedesaan karena sifatnya.

Ketiga, pola hubungan patron-klien, yaitu hubungan sosial-ekonomi antara pengusaha besar (patron) dan petani (klien), sangat memengaruhi struktur ekonomi tembakau Madura.

Pengusaha tidak hanya membeli hasil produksi, mereka juga sering memberikan, permodalan akses jaminan pemasaran, perlindungan ekonomi informal.

BACA JUGA :  Kemensos Mulai Salurkan Bansos PKH Tahap 4 di Oktober, Cek Nama Penerima di Sini

Sebaliknya, petani menunjukkan kesetiaan dengan bergantung pada patron mereka untuk menjual hasil panen mereka. Namun, pola inidapat menyebabkan ketimpangan kekuatan tawar dan stabilitasekonomi dalam jangka pendek.

b. Peran Pengusaha Besar dalam Struktur Pasar

Pengusaha besar seperti H. Her memainkan dua peran penting dalam struktur tersebut: mengumpulkan dan menetapkan harga.

1. Sebagai Pengumpul. Pengusaha bekerja sebagai aggregator, menggabungkan produksi banyak petani kecil menjadi jumlah besar yang dapat dijual ke industri yang lebih luas, seperti pabrik rokok.

Pekerjaan ini sangat penting karena:Pasar akhir membutuhkan volume besar dan kualitas tertentu, tetapi petani biasanya memiliki skala produksikecil.

Akibatnya, aggregator berfungsi sebagai penghubung dalam rantai nilai, meningkatkan efektivitas distribusi dan mengurangi biaya transaksi.

2. Sebagai Penentu Harga (price setter). Pengusaha besar tidak hanya mengumpulkan barang, mereka juga berperan sebagai penentu harga, yaitu mereka yang dapat memengaruhi harga tembakau di tingkat petani.

Dalam pandangan organisasi industri, kondisi ini disebabkan oleh struktur pasar yang cenderung oligopsonistik, di mana: Jumlah penjual sangat besar dibandingkan dengan jumlah pembeli. Akibatnya, pembeli, atau pengusaha, memiliki kekuatan tawar yang lebih dominan.

Pengusaha seperti H. Her dapat menetapkan standar harga pasar sendiri, menjadi contoh bagi pesaing bisnis, dan mengontrol harga melalui pengendalian permintaan dan distribusi.

Namun, pengusaha juga dapat menaikkan harga secara signifikan dalam situasi tertentu, seperti peningkatan permintaan atau strategi bisnis, yang kemudian diikuti oleh pelaku pasar lain.

Secara umum, struktur ekonomi tembakau Madura menunjukkan ciri-ciri berikut: Sistem ekonomi yang didasarkan pada komoditas unggulan dengan padat karya, pola relasi patron-klien, dan struktur pasar oligopsonistik.

Pengusaha besar bertindak sebagai agregator dan penentu harga secara strategis. Pengusaha diposisikan sebagai aktor ekonomi dan pengendali utama dalam mekanisme distribusi dan pembentukan harga, yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani dan stabilitas ekonomi lokal sebagai akibat dari peran ganda ini.

Perspektif Ekonomi 

Kekuatan Penetapan Harga (Price Leadership

Peningkatan Harga yang signifikan. Kemampuan H. Her untuk menaikkan harga tembakau menunjukkan pergeseran peran dari price taker menjadi pelaku ekonomi yang memiliki kekuatan pasar (market power) dan bertindak sebagai pemimpinharga dalam struktur pasar. 

1. Kekuatan Pasar. Dalam kajian organisasi industri, kekuatan pasar mencakup:

kemampuan pelaku usaha untuk mengubah harga di atas tingkat keseimbangan kompetitif tanpa mengurangi permintaan.

Setiap pelaku adalah price taker pada pasar yang kompetitif sempurna. Namun, dalam struktur pasar yang tidak sempurna, seperti oligopsoni pada komoditas tembakau, beberapa pelaku dapat memperoleh kekuatan untuk menentukan harga, mengontrol jumlah pembelian, dan memengaruhi ekspektasi pasar.

Dalam hal ini, kekuatan pasar H. Her dapat dijelaskan oleh beberapa faktor penting:

a. Konsentrasi pasar melalui sedikit pembeli besar, kontrol terhadap jaringan pemasok melalui petani, kapasitas modal dan penyimpanan, dan akses ke pasar hilir melalui industri rokok.

b. Asimetri kekuatan tawar, juga dikenal sebagai asimetris perundingan kekuatan, terjadi ketika mekanisme permintaan-penawaran yang bebas tidak lagi menentukan harga secara keseluruhan.

BACA JUGA :  Cuaca Ekstrem Ancam Jawa Timur dalam Sepekan Kedepan, Ini 7 Langkah yang Harus Dilakukan Warga

2. Kepemimpinan Harga. Harga pemimpin menjelaskan situasi di mana:
Harga ditetapkan oleh satu pelaku pasar yang dominan, yang diikuti oleh pelaku lain.

Dalam model ini, struktur pasar oligopolistik atau oligopsonistik mengalami fenomena ini:
Untuk menghindari risiko pasar, pengikut menyesuaikan harga secara implisit.

Oleh karena itu, ketika H. Her menaikkan biaya tembakau, harga pasar secara keseluruhan mendorong kenaikan, menciptakan standar harga regional baru. Pelaku lain cenderung mengikutinya.

3. Mekanisme Kenaikan. Harga Ekonomi Secara teoritis, ada beberapa mekanisme yang dapat menjelaskan kemampuan price leader untuk menaikkan harga:

a. Efek Pengendalian Penawaran

Pengusaha mengatur jumlah distribusi atau pembelian, sehingga, Efek Ekspektasi Pasar: Pasokan pasar yang efektif menjadi terbatas; ada tekanan untuk kenaikan harga.

b. Harga yang ditetapkan oleh pemimpin pasar membentuk harapan pelaku lain:
Pembeli mengubah cara mereka membeli. Harga berubahmenjadi sistem yang berfungsi sendiri.

c. Efek Koordinasi Taktis

Meskipun tidak ada kesepakatan resmi, pelaku lain,mengikuti harga leader Menghindari kompetisi harga yang merugikan. Ini menciptakan stabilitas harga tetapi mengurangi kompetisi.

Fakta ini menunjukkan bahwa industri tembakau tidak berada dalam kondisi persaingan ideal; sebaliknya, ini menunjukkan bahwa: Menghasilkan struktur pasar yang tidak sempurna, ditandai dengan dominasi aktor tertentu, dan termasuk elemen koordinasi harga.

Fenomena kenaikan harga yang dipimpin oleh H. Her dapat dirumuskan secara konseptual sebagai berikut:

Keberadaan kekuatan pasar memungkinkan pelaku bisnis bertindak sebagai pemimpin harga, memengaruhi pembentukan harga dalam pasar yang tidak kompetitif. Kenaikan harga yang signifikan adalah bukti dari kekuatan pasar ini.

Oleh karena itu, peran H. Her di pasar tembakau Madura mencakup lebih dari sekedar seorang pelaku ekonomi biasa:
aktor dominan yang memiliki kemampuan struktural untuk mengontrol dinamika harga melalui mekanisme kepemimpinan pasar yang dikenal sebagai kepemimpinan harga.

Analisis Teoritis

Pandangan Berdasarkan Sumber Daya (RBV): Menurut pandangan ini, keunggulan kompetitif suatu perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kondisi pasar eksternal, tetapi juga oleh kepemilikan dan pengelolaan sumber daya internal yang strategis.

Menurut kerangka RBV, sumber daya yang memenuhi kriteria VRIN yaitu: Valuable (bernilai): rare (langka), inimitable(sulit ditiru), 

a. Sumber Daya Strategis H. Her

1. Jaringan Petani (Capital Sosial) Bentuk modal sosial terdiri dari jaringan yang luas dengan petani, misalnya: Relasi berbasis kepercayaan, loyalitas jangka panjang, dan akses eksklusif ke produk tembakau.

Menurut RBV, valuable karena menjamin ketersediaan terus menerus, unik karena tidak semua pelaku memiliki hubungan yang sama, dan inimitable karena dibangun melalui proses sosial dan historisyang panjang.

2. Modal Finansial: Modal besar memungkinkan pembelian besar, penyimpanan stok (inventory holding), dan fleksibilitas dalam menentukan waktu jual-beli. Dalam RBV, modal menjadi sumber daya yang memungkinkan secara strategis untuk meningkatkan daya tahan terhadap perubahan pasar.

3. Akses Pasar: Akses langsung ke industri hilir, seperti pabrik rokok, memberikan kepastian permintaan, informasi preferensi kualitas, dan posisi tawar yang lebih kuat. Ini menghasilkan integrasi vertikal yang efektif dalam rantai nilai.

BACA JUGA :  Bansos PKH BPNT Oktober 2025 Cair? Begini Cara Cek Status Penerima Online

 

4. Informasi Harga (Keunggulan Informasi Pasar) Penguasaan Informasi terkait, termasuk harga pasar regional dan nasional, tren permintaan, dan kualitas tembakau. Informasi ini menawarkan keunggulan dalam pengambilan keputusan (keunggulan dalam pengambilan keputusan), serta kemampuan untuk menerapkan strategi timing dalam penentuan harga.

Dalam RBV, informasi ini berharga tetapi tidak dapat diimitasi dengan baik karena tidak semua pelaku memiliki akses ke informasi yang sama.

b. Mengubah keunggulan persaingan yang berkelanjutan menjadi keunggulan kompetitif yang berkelanjutan: kombinasi keempat sumber daya tersebut bekerja sama dan memperkuat satu sama lain.

Kapasitas organisasi yang sulit ditiru oleh pesaing dihasilkan oleh integrasi ini dalam kerangka RBV. Akibatnya, terbentuk:

1. Kelebihan Penguasaan Pasokan: Kontinuitas pasokan dan kualitas bahan baku terjaga, mengurangi ketergantungan pada pasar terbuka;

2. Penetapan Harga: Mampu bertindak sebagai penentu harga dan fleksibel dalam strategi harga; Stabilitas Bisnis: Tahan terhadap fluktuasi pasar dan memiliki kontrol lebih besar atas rantai nilai.

Perspektif Politik (Political Economy Perspective

Relasi Ekonomi-Kekuasaan 

Dari sudut pandang ekonomi politik, aktivitas ekonomi tidak dapat dilepaskan dari struktur kekuasaan. Seringkali, kekayaan ekonomi seseorang menghasilkan kekuatan politik dan pengaruh sosial, yang menghasilkan relasi timbal balik antara ekonomi dan kekuasaan (economy–power nexus).

Pengusaha besar seperti H. Her mungkin melihat akumulasi kekayaan ekonomi menghasilkan dua jenis kekuatan utama: pengaruh sosial (social influence) dan akses ke elit politik (political connectivity).

 

 

Analisis Akademik  

1. Pengaruh Sosial Tinggi (Social Influence) . Pengaruh sosial mengacu pada kemampuan individu atau kelompok untuk: Mempengaruhi perilaku ekonomi masyarakat membentuk norma dan harapan sosial menjadi rujukan dalam pengambilan keputusan kolektif.

Dalam hal ini, pengusaha besar memiliki kontrol atas sumber daya ekonomi (ekonomi), peran sebagai pemberi kerja dan penyedia akses pasar, dan hubungan patron-klien dengan masyarakat (petani).

Akibatnya: Loyalitas sosial muncul, legitimasi informal meningkat, dan pengusaha berperan sebagai aktor penting dalam struktur sosial-ekonomi lokal.

2. Kedekatan dengan elite lokal dan nasional (politik kedekatan) bisa digambarkan dengan konsep berikut: Kedekatan Politik Elite Jaringan dalam pandangan ekonomi politik, hubungan antara pelaku ekonomi dan elite politik bersifat mutualistik, yaitu:

a. Dari sisi pengusaha: mendapatkan kemudahan regulasi akses terhadap informasi kebijakan, perlindungan terhadap risiko bisnis

b. Dari sisi elite politik: Mendapatkan dukungan finansial basis.

Fenomena ini dapat digambarkan secara konseptual sebagai berikut: Akumulasi kekuatan ekonomi memungkinkan pelaku usaha mengonversi kekayaan ekonomi menjadi kekayaan sosial dan politik.

Ini menciptakan relasi kekuasaan yang memperkuat posisi dominannya dalam struktur ekonomi dan politik lokal.

Dengan demikian, pengusaha besar seperti H. Her tidak hanya bertindak sebagai aktor ekonomi tetapi juga sebagai aktor strategis dalam struktur kekuasaan.

Dengan jaringan dan sumber daya yang dimilikinya, mereka memiliki kemampuan untuk memengaruhi dinamika sosial, ekonomi, dan kebijakan.

IMG-20260406-WA0021
previous arrow
next arrow