Scroll untuk melanjutkan membaca
Opini

Sampah Pesisir Branta, Siapa Peduli ? 

Avatar
×

Sampah Pesisir Branta, Siapa Peduli ? 

Sebarkan artikel ini
Kurdi Born, (Foto/Dok terukur.id, disempurnakan AI)

Sampah yang berserakan di bibir Pantai Branta, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, bukan sekadar pemandangan yang mengganggu mata. Tampak sebuah potret nyata tentang menurunnya kesadaran lingkungan, khususnya di kalangan masyarakat pesisir.

Plastik-plastik tak bertuan berjejer di garis pantai, terbawa ombak, seolah menegaskan bahwa hubungan manusia dengan alam “hablum minal alam” kian merenggang.

Dilihat dari kacamata normal fenomena ini tidak bisa dipandang remeh. Sebab ancaman makin nyata ketika hubungan kita dengan alam mulai memudar.

Dahulu, kawasan pesisir identik dengan budaya gotong royong dan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Namun kini, nilai-nilai itu perlahan luntur. Cinta terhadap lingkungan, hidup bersih kini hanya tinggal semboyan.

BACA JUGA :  PPPK Paruh Waktu 2025 Wajib Tahu, Ini Tunjangan dan Hak yang Bisa Didapat

Dampak dari persoalan ini tidak hanya bersifat estetika. Tumpukan sampah dapat memicu berbagai masalah serius, mulai dari gangguan kesehatan akibat pencemaran, berkembangnya bakteri dan penyakit, hingga kerusakan ekosistem laut yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat. Lebih jauh lagi, kondisi ini juga menimbulkan “polusi sosial”, di mana ketidakpedulian menjadi hal yang dianggap biasa.

Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam. Berbagai imbauan, program kebersihan, hingga penyediaan fasilitas pengelolaan sampah telah dilakukan sebagai bentuk edukasi dan contoh nyata. Namun, upaya tersebut seringkali hanya berdampak sesaat. Kesadaran kolektif masyarakat belum tumbuh secara konsisten, sehingga kebiasaan lama kembali terulang.

Permasalahan ini menjadi tantangan besar, khususnya bagi generasi muda. Anak muda memiliki peran strategis sebagai agen perubahan sosial. Ketika kesadaran mulai luntur, justru di situlah peran mereka dibutuhkan untuk menghidupkan kembali semangat menjaga lingkungan. Edukasi berbasis komunitas, gerakan bersih pantai, hingga kampanye pengurangan plastik harus digencarkan secara berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.

BACA JUGA :  Jadwal PPG Tahap 3 Tahun 2025 Resmi Diumumkan, Ini Syarat dan Tanggal Pentingnya

Selain itu, diperlukan pendekatan yang lebih tegas dan sistematis. Penegakan aturan terhadap pelaku pembuangan sampah sembarangan harus berjalan beriringan dengan edukasi. Di sisi lain, inovasi dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat—seperti bank sampah atau ekonomi sirkular—dapat menjadi solusi jangka panjang.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apa yang harus dilakukan ketika kesadaran mulai menghilang? Jawabannya bukan hanya pada pemerintah, tetapi pada seluruh elemen masyarakat. Kesadaran harus dibangun dari hal kecil—tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, hingga saling mengingatkan antar warga.

BACA JUGA :  5 Rekomendasi Beasiswa untuk Mahasiswa on Going, dari Bantuan UKT hingga Peluang Magang

Pesisir Branta hari ini adalah cermin dari kondisi yang lebih luas. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin pencemaran akan semakin meluas dan menggerus kualitas hidup masyarakat. Namun jika ditangani dengan keseriusan dan kolaborasi, bukan mustahil kawasan ini kembali menjadi pesisir yang bersih, sehat, dan layak dibanggakan.

Menjaga alam bukan sekadar kewajiban, melainkan investasi masa depan. Karena pada akhirnya, alam yang rusak tidak hanya merugikan lingkungan, tetapi juga manusia itu sendiri.

Penulis : Kurdi Born
IMG-20260504-WA0013
previous arrow
next arrow