Scroll untuk melanjutkan membaca
Opini

Kemelut Pemuda di Gelap Malam: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Avatar
×

Kemelut Pemuda di Gelap Malam: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Sebarkan artikel ini
Moh. Kurdi, (Foto/Dok. Terukur.id)

Malam punya dua wajah. Bagi sebagian orang, malam adalah waktu untuk beristirahat dan bersantai. Tapi bagi banyak pemuda, malam justru terasa panjang. Panjang karena dipenuhi pertanyaan yang tak kunjung usai: _Siapa saya? Ke mana saya melangkah? Apa makna dari semua ini?_

Di sudut-sudut kota yang gelap dan sering diabaikan, tersimpan banyak pelajaran. Di lorong-lorong tanpa cahaya itu kita sadar: hidup tidak selalu ramah. Hidup bisa keras, menuntut kita dewasa lebih cepat dari usia.

Dari bisingnya musik yang memecah sepi, kita belajar tentang hiruk-pikuk dunia. Dunia begitu ramai sampai-sampai kita lupa mendengar suara hati sendiri. Di tengah keramaian itu, banyak pemuda yang menutupi sepi, cemas, dan luka yang tak sempat diceritakan.

BACA JUGA :  PNS Bisa Ajukan Kenaikan Pangkat Setiap Bulan, Ini Syarat yang Perlu Diketahui

Dari sebotol minuman yang ditenggak sekejap, kita paham harga dari sebuah pelanggaran. Bukan hanya soal uang yang habis. Tapi juga kesehatan yang terkikis, waktu yang terbuang, harga diri yang jatuh, dan hubungan dengan orang-orang tersayang yang renggang. Kenikmatan sesaat, sering berakhir dengan penyesalan panjang.

Tapi hidup tidak berhenti di titik salah.

Bahkan dari tempat yang paling kelam, dari titik terendah sekalipun, manusia masih bisa belajar tentang kebangkitan. Karena setiap kejatuhan menyimpan ruang untuk jujur pada diri sendiri. Ketika kita sadar betapa rapuhnya diri, di situlah pintu perubahan terbuka.

BACA JUGA :  5 Rekomendasi Beasiswa untuk Mahasiswa on Going, dari Bantuan UKT hingga Peluang Magang

Pencarian jati diri memang jarang dimulai dari tempat yang indah.

Ada yang menemukannya setelah berkali-kali terjatuh.

Ada yang baru belajar bersyukur setelah kehilangan.

Ada pula yang baru menemukan Tuhan, ketika merasa tidak punya siapa-siapa lagi selain-Nya.

Pemuda tidak dituntut sempurna.

Kami sedang belajar.

Belajar memilih arah.

Belajar bertanggung jawab atas setiap pilihan.

Belajar membedakan antara kebebasan yang memerdekakan dan kebebasan yang merusak.

Pada akhirnya, semua perburuan akan dunia hanyalah perjalanan. Setinggi apa pun mimpi, sebanyak apa pun kemewahan yang diraih, langkah kita tetap akan kembali kepada Sang Pencipta. Kesadaran inilah yang seharusnya menjadi kompas di setiap jalan.

BACA JUGA :  PPPK Paruh Waktu 2025 Wajib Tahu, Ini Tunjangan dan Hak yang Bisa Didapat

Karena sejatinya, jati diri tidak ditemukan di gemerlap malam atau bisingnya dunia.

Jati diri ditemukan ketika kita berani berdamai dengan masa lalu, memperbaiki hari ini, dan menata masa depan dengan hati yang lebih dekat kepada Tuhan.

Bukan seberapa jauh kita pernah tersesat yang penting.Bukan seberapa jauh kita tenggelam dalam jurang kenistaan, tapi seberapa besar daya kita untuk bangkit kembali.

 

Oleh : Kurdi Born, Jurnalis Terukur.id

IMG-20260504-WA0013
previous arrow
next arrow