Pamekasan – Upaya pengurangan sampah dari sumbernya terus digencarkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pamekasan. Melalui pengoperasian 10 unit Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) yang tersebar di sejumlah kecamatan, DLH optimistis volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bisa diminimalisir secara signifikan.
Keberadaan TPS 3R dinilai menjadi kunci karena mampu mendaur ulang sebagian besar sampah rumah tangga sebelum berakhir menjadi residu.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Sarana Prasarana Persampahan dan Limbah B3, DLH Kabupaten Pamekasan, Buyung Sebastian, mengatakan, konsep TPS 3R adalah mengolah sampah langsung di tingkat kawasan.
“Dengan 10 TPS 3R yang aktif saat ini, kita bisa meminimalisir sampah di Pamekasan karena sebagian besar sampah rumah tangga tidak langsung ke TPA, tapi diolah dan didaur ulang. Sampah organik jadi kompos, anorganik bernilai ekonomi kita pilah untuk bank sampah,” ujar Buyung saat ditemui di kantornya, Kamis (29/10/2026).
Menurut Buyung, dari total sampah rumah tangga yang masuk ke TPS 3R, sekitar 30 hingga 40 persen berhasil diolah kembali. Sisanya yang berupa residu baru kemudian dibawa ke TPA.
“Jika hitungan normal satu TPS 3R rata-rata bisa mengolah 1 sampai 2 ton sampah per hari. Kalau 10 TPS 3R berjalan optimal, berarti ada 10 hingga 20 ton sampah per hari yang tidak membebani TPA. Ini langkah besar untuk Pamekasan yang bersih,” jelasnya.
Buyung menambahkan, keberhasilan TPS 3R tidak lepas dari partisipasi masyarakat dalam memilah sampah dari rumah. Ia mengimbau warga untuk mulai membiasakan memilah sampah organik, anorganik, dan B3.
“Filosofinya sederhana, Cintai Lingkunganmu, Jangan Buang Sampah Sembarangan. Kalau sampah sudah terpilah dari rumah, kerja TPS 3R akan lebih ringan dan nilai daur ulangnya lebih tinggi,” tuturnya.
DLH Pamekasan mencatat, dari 10 TPS 3R tersebut, beberapa di antaranya berada di Kecamatan Pamekasan Kota, Tlanakan, Pademawu, Galis, dan Proppo. Ke depan, DLH menargetkan penambahan unit TPS 3R serta penguatan kelompok swadaya masyarakat (KSM) pengelola.
“Kami di DLH tidak bisa bekerja sendiri. Kami butuh dukungan pemerintah desa, kecamatan, perkantoran, dan masyarakat umum. Pamekasan bersih harus dimulai dari kesadaran kita memilah sampah,” pungkas Buyung.
DLH juga akan terus melakukan pembinaan dan monitoring terhadap operasional TPS 3R agar sesuai dengan standar pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan. (*/Rosy)
















