Pamekasan – Pagelaran Wayang Kulit Madura memeriahkan peringatan Hari Jadi ke-495 Kabupaten Pamekasan di Pendopo Budaya setempat, Sabtu (25/10/2025) malam.
Dalam kegiatan tersebut, ratusan warga memadati Pendopo Budaya Pamekasan untuk menyaksikan kisah klasik Wongso Adu Jago yang dibawakan dua dalang asal Pamekasan, yaitu Ki Novem Ali Sahos Sudirman dan Ki Tola’adi.
Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB, itu dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Pamekasan Sukriyanto, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan Mohammad Alwi, serta Ketua Yayasan Vihara Avalokitesvara Pamekasan Kosala Mahinda, dan pembina Sanggar Panti Budaya Pamekasan.
Kegiatan ini bekerjasama dengan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Pamekasan, Disdikbud Pamekasan, Vihara Avalokitesvara, dan Dharma Jaya Elektronik.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Sukriyanto, menyampaikan apresiasi penuh
kepada seniman yang hingga kini masih melestarikan kesenian tradisional.
Ia menilai bahwa pagelaran tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk pelestarian budaya daerah.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya pelajar dan mahasiswa untuk turut serta mempelajari kesenian tradisional.
Menurutnya, pelestarian budaya akan semakin terjaga jika generasi yang akan datang turut serta melestarikannya.
“Kami sangat mengapresiasi dan semoga wayang kulit Madura tetap terjaga dan semakin dikenal oleh kalangan generasi muda,” ujarnya, Sabtu (25/10/2025) malam.
Sementara itu, salah satu dalang, Ki Novem Ali Sahos Sudirman, mengaku bangga bisa memeriahkan peringatan hari Kabupaten Pamekasan dengan kesenian tradisional yang dibawakannya.
Ia sendiri merupakan generasi keenam dari keluarga dalang legendaris Bajang Kolè’ Sanggar Panti Budaya Pamekasan.
“Wayang kulit Madura merupakan warisan berumur ratusan tahun. Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah daerah yang masih memberikan ruang untuk menampilkan budaya ini,” ungkapnya.
Sudirman menilai bahwa minat generasi muda terhadap kesenian tradisional mulai terkikis. Sehingga, perlu dukungan dari berbagai pihak, utamanya dunia pendidikan dan kebudayaan.
Melalui dunia itu, pemerintah bisa menjalankan kegiatan ekstrakurikuler budaya di setiap sekolah guna mengenalkan wayang kulit Madura.
“Universitas Airlangga Surabaya sudah mengakui Bajang Kole’ Pamekasan, apalagi kita sendiri. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita melestarikan budaya ini secara bersama-sama,” pungkasnya. (farid/rosyi)


















