Scroll untuk melanjutkan membaca
Artikel

Bukan Sekadar Hafalan: Menjadikan Pancasila sebagai Lifestyle Gen Z

Avatar
×

Bukan Sekadar Hafalan: Menjadikan Pancasila sebagai Lifestyle Gen Z

Sebarkan artikel ini
Ach. Syarofi, M. PD, Kepala Perpustakaan STAIFA Pamekasan, Dosen PBA UIN Madura, (Foto/Dok.Terukur.id)

Bagi generasi Z, ketika mendengar kata “Pancasila” mungkin langsung memicu memori kolektif tentang upacara bendera hari Senin yang terik, hafalan butir-butir sila demi mengejar nilai ujian sekolah, atau penataran formal yang terasa berjarak dari realitas sehari-hari. Realitasnya, Pancasila sering kali terjebak dalam ruang kelas, kaku di atas kertas, dan membeku sebagai pajangan dinding di kantor-kantor sekolah & pemerintahan.

Namun, di tengah derasnya arus globalisasi, algoritma media sosial, dan gempuran budaya asing, ada satu pertanyaan krusial Hari ini yang perlu kita renungkan; Apakah Pancasila masih relevan kah? atau telah mengalami transformasi menjadi sekadar warisan yang usang?

Maka jawabnya harus lantang dan jelas, Pancasila tidak boleh mati menjadi sekadar hafalan teks. Agar tetap hidup, Pancasila harus mengalami dekonstruksi cara pandang. Ia harus turun dari status “dogma” dan melebur menjadi sesuatu yang dekat, personal, dan organik. Pancasila harus menjadi warisan yang tetap menyala, memberi makna bagi generasinya. Singkatnya, Pancasila harus menjadi lifestyle, gaya hidup bagi Gen Z.

Mengapa Harus Lifestyle?

Gen Z adalah generasi yang kondisinya paling tidak bisa didikte oleh indoktrinasi normatif. Mereka adalah digital natives yang kritis, skeptis terhadap formalitas, namun keadaanya juga sangat peduli pada isu-isu substantif seperti keadilan sosial, kesehatan mental, kesetaraan, dan kelestarian lingkungan. Jika Pancasila ditawarkan dalam bentuk ceramah satu arah, ia akan langsung ber paling atau disaring keluar dari ruang perhatian mereka. Artinya, jika salah metode, maka nilai-nilai Pancasila sulit untuk diterima oleh mereka.

Menjadikan Pancasila sebagai lifestyle berarti menerjemahkan atau mentransformasikan nilai-nilai luhur dari kelima sila tersebut ke dalam bahasa estetika, tindakan, dan kebiasaan sehari-hari yang rela table. Pancasila tidak lagi dipandang sebagai beban ideologis, melainkan sebagai moral compass yang keren, modern, dan berdampak nyata dalam kehidupan mereka.

BACA JUGA :  5 Cara Ampuh Mengurangi Lemak Perut Tanpa Perlu Latihan Berat

Menanamkan Pancasila dalam Keseharian Gen Z

Bagaimana sebenarnya wajah Pancasila ketika ia bertransformasi menjadi gaya hidup anak muda zaman sekarang? Mari kita bedah pancasila dari sila Pertama hingga kelima melalui bahasa sederhana dengan memakai bahasa gen Z.

Sila Pertama: Bisa memilliki makna spiritual Wellness dan Toleransi Tanpa Batas

Artinya, bagi Gen Z ketuhanan bukan sekadar ritual formal, melainkan pencarian makna hidup dan inner peace. Sila pertama memberi wujud dalam bagaimana mereka menghargai ruang spiritual orang lain. Keberadaan Menghormati perbedaan agama bukan lagi karena “peraturan negara”, melainkan karena kesadaran diri bahwa setiap individu berhak atas ketenangan spiritualnya. Keterbukaan ini tenth akan menciptakan ekosistem pertemanan/circle yang inklusif, baik di dunia nyata maupun di kolom komentar media sosial.

Sila kedua: Mengajak Budaya Respect, Anti-Bullying, dan Cancel Culture yang BijakĀ 

Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah tentang bagaimana kita memanusiakan manusia di era algoritma. Di tangan Gen Z, sila kedua ini adalah gerakan melawan cyberbullying, rasisme, dan pelecehan seksual. Ketika anak muda menggunakan suaranya untuk membela yang lemah, mempromosikan inklusivitas bagi penyandang disabilitas, atau sekadar menerapkan etika berkomunikasi yang baik di internet, mereka sedang mempraktikkan sila kedua dalam level tertinggi. Hal ini juga menjadi bagian penting untuk meminimalisir fenomena bullying, rasisme dan pelecehan seksual yang makin hari makin kian menguak.

BACA JUGA :  Resmi Rilis 21 November, Berikut Cara Cek Pengumuman Magang Nasional 2025 Batch 2

Sila Ketiga: Memperbanyak Kolaborasi Kreatif dan Bangga Produk LokalĀ 

Persatuan Indonesia bagi Gen Z tidak lagi bicara tentang angkat senjata, bukan lagi tentang penjajahan, melainkan tentang menyatukan kreativitas, kolaborasi lintas disiplin dan latar belakang. Ini adalah tentang bagaimana kreator konten, software engineer, desainer grafis, dan pelaku UMKM lokal saling bahu-membahu. Gerakan bangga memakai brand lokal, melestarikan wastra Nusantara dengan sentuhan modern, atau menyuarakan isu-isu daerah agar didengar di tingkat nasional adalah wujud konkret dari nasionalisme yang cair dan tidak kaku. Nilai seperti inilah yang harus di jaga sebab mencerminkan sebagai generasi Indonesia yang kreatif Dan bermartabat.

Sila Keempat: Ruang Diskusi yang Sehat (Safe Space) dan DemokratisĀ 

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan mewujud dalam budaya diskusi Gen Z. Mereka menyukai ruang-ruang aman (safe spaces) untuk bertukar pikiran, baik melalui podcast, utas di media sosial, maupun forum komunitas. Keberadaan sila keempat hidup ketika anak muda bisa menerima perbedaan opini tanpa harus menyerang pribadi (ad hominem), serta mencari solusi bersama atas masalah-masalah kolektif melalui konsensus yang sehat.

Sila Kelima: Social Justice, Filantropi

Digital, dan Kepedulian Lingkungan Keadilan sosial adalah tentang empati. Gen Z adalah generasi yang sangat cepat bergerak ketika melihat ketidakadilan. Melalui crowdfunding (galang dana digital), aksi tanggap bencana yang diinisiasi lewat media sosial, hingga gerakan zero waste dan sustainable fashion untuk menjaga bumi bagi generasi masa depan, mereka sedang mengetuk pintu keadilan sosial. Bagi mereka, kesejahteraan harus merata, dan bumi yang mereka pijak harus diselamatkan.

BACA JUGA :  Besaran Gaji Peserta Magang Nasional Batch 2 dan Cara Daftarnya

Sudah saat nya, “Fyp-kan Pancasila”

Tentu saja, membumikan Pancasila sebagai gaya hidup memiliki tantangan besar. Arus polarisasi politik yang sering kali mencoreng wajah Pancasila, di mana ideologi ini kerap dijadikan alat pemukul untuk memberi label “tidak Pancasila-is” pada pihak yang berbeda pandangan. Hal ini membuat sebagian anak muda antipati. Membuat gen Z semakin jauh.

Oleh karena itu, harus segera dibenahi, narasi Pancasila harus direbut kembali oleh anak muda. Pancasila harus masuk ke dalam FYP (For You Page) TikTok, menjadi narasi estetis di Instagram, dan menghidupkan ruang-ruang diskusi kritis di X (Twitter). Konsepnya harus diubah dari “Apa yang harus aku lakukan untuk Pancasila?” menjadi “Bagaimana Pancasila membuat hidupku dan lingkunganku menjadi lebih baik?”

Pancasila bukanlah naskah kuno yang harus dikeramatkan dalam lemari kaca sejarah. Bukan sekadar narasi untuk hafalan belaka, Ia adalah entitas yang hidup, dinamis, dan fleksibel.

Ketika Gen Z mulai menyadari bahwa bersikap baik di media sosial, mendukung produk teman sendiri, menjaga lingkungan, dan menghargai perbedaan adalah bagian dari mengamalkan ideologi negara, maka di sanalah Pancasila telah berhasil memenangkan masa depan.

Saatnya berhenti memaksa Gen Z menghafal Pancasila. Biarkan mereka merasakannya, menghidupinya, dan menjadikannya sebagai tren gaya hidup baru yang paling keren di era algoritma saat ini. Karena pada akhirnya, menjadi Pancasilais bukan tentang seberapa lancar kita melafalkannya saat upacara, melainkan seberapa nyata nilai-nilai itu mengalir dalam setiap keputusan dan tindakan kita sehari-hari.

 

Penulis: Ach. Syarofi, M. Pd, Kepala Perpustakaan STAIFA Pamekasan dan dosen PBA UIN Madura.
IMG-20260504-WA0013
previous arrow
next arrow