Scroll untuk melanjutkan membaca
Artikel

BBM Naik, Inflasi Menggeliat, Ekonomi Menahan Napas, Awan Mendung di Atas Madura

Avatar
×

BBM Naik, Inflasi Menggeliat, Ekonomi Menahan Napas, Awan Mendung di Atas Madura

Sebarkan artikel ini
Dr. ACHMARUL FAJAR, SE,MM, CELM, Dosen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Madura, (Foto/Dok. Terukur.id)

Salah satu kebijakan ekonomi yang berdampak besar pada aktivitas ekonomi nasional adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Dalam perspektif ekonomi makro, bahan bakar minyak dan gas (BBM) bukan sekadar komoditas energi, itu adalah input strategis yang digunakan hampir di seluruh industri produksi dan distribusi. Oleh karena itu, tanpa fundamental ekonomi yang kuat, setiap kenaikan harga BBM dapat menyebabkan inflasi, penurunan daya beli masyarakat, dan penurunan pertumbuhan ekonomi.

1. Kenaikan BBM sebagai Sumber Inflasi Cost-Push

Kenaikan harga BBM  adalah sebagai kategori inflasi dorongan biaya, atau disebut juga dengan  inflasi push cost yaitu peningkatan biaya produksi akan terjadi kenaikan harga barang dan jasa sehingga  menyebabkan inflasi, Perspektif yang sama diperkuat olehmodel Aggregate Supply-Aggregate Demand (AS-AD), menyatakan bahwa kenaikan harga energi mengakibatkan biaya produksi industri meningkat, biaya distribusi barang meningkat, dan harga barang konsumsi naik. Akibatnya, kurva penawaran agregat jangka pendek, juga dikenal sebagai penawaran agregat jangka pendek, bergerak ke arah kiri. Akibatnya, tingkat harga umum meningkat sementara output ekonomi dapat menurun. Dengan kata lain, peningkatan biaya produksi di seluruh rantai ekonomi bukanlah sumber tekanan inflasi yang berasal dari meningkatnya permintaan masyarakat.

2. Efek Domino terhadap Daya Beli Masyarakat

Secara ekonomi, kenaikan BBM akan menyebabkan inflasi dan penurunan pendapatan riil masyarakat. Daya beli masyarakat akan menurun jika pendapatan nominal tidak meningkat secepat kenaikan harga barang dan jasa. Sebagai contoh: Biaya transportasi naik, harga bahan pokok naik, biaya logistik naik, dan harga jasa naik. Menurut teori konsumsi Keynes, penurunan daya beli rumah tangga akan mengakibatkan penurunan konsumsi.Konsumsi rumah tangga selama ini merupakan kontributor terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, mencapai lebih dari 50%. Oleh karena itu, ketika daya beli turun, pertumbuhan ekonomi juga dapat melambat.

3. Dampak terhadap Dunia Usaha dan UMKM

Pengaruhnya pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menghadapi tekanan yang lebih besar sebagai akibat dari peningkatan BBM. Hal ini terjadi karena sebagian besar usaha kecil dan menengah (UMKM) memiliki: Modal yang terbatas, Produksi yang kurang efisien, Sangat bergantung pada biaya transportasi. Tidak dapat menerima kenaikan biaya. Menurut teori perusahaan, kenaikan biaya produksi akan mengurangi margin keuntungan. Pelaku usaha biasanya dihadapkan pada dua opsi: menaikkan harga produk dan berisiko kehilangan pelanggan. Menahan harga dan menerima penurunan keuntungan. Kedua opsi tersebut memiliki kemungkinan untuk mengurangi kinerja bisnis dalam jangka pendek.

4. Inflasi dan Kebijakan Moneter

Seringkali, bank sentral harus menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat sebagai tanggapan atas inflasi yang disebabkan oleh BBM. Bank sentral dapat menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas harga dalam kerangka target inflasi. Namun, ada konsekuensi dari kebijakan ini. Kredit menjadi lebih mahal, investasi swasta melambat, konsumsi berbasis kredit menurun, dan pertumbuhan ekonomi mungkin tertahan. Ini menjelaskan mengapa kenaikan BBM sering diikuti oleh perlambatan aktivitas ekonomi selama periode waktu tertentu.

BACA JUGA :  Cara Daftar Magang Hub Kemnaker Batch 2 2025: Syarat, Jadwal, dan Panduan Lengkap

5. Mengapa Ekonomi “Menahan Napas”?

“Ekonomi menahan napas” adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan ketika pelaku ekonomi berada dalam fase yang penuh dengan ketidakpastian dan kehati-hatian. Menurut teori ekspektasi ekonomi, keputusan tentang investasi dan konsumsi sangat dipengaruhi oleh perkiraan kondisi masa depan. Ketika harga BBM naik, rumah tangga menunda konsumsi yang tidak mendesak, sektor usaha menahan pertumbuhan, investor menunggu kepastian kebijakan, dan pasar menjadi lebih berhati-hati. Akibatnya, ekonomi tetap berjalan, tetapi dengan kecepatan yang lebih rendah daripada biasanya.

6. Peran Fundamental Ekonomi

Apabila fundamental ekonomi suatu negara kuat, kenaikan BBM tidak selalu menyebabkan krisis. Pertumbuhan ekonomi yang stabil, cadangan devisa yang memadai, defisit fiskal yang terkendali, sistem perbankan yang sehat, dan tingkat pengangguran yang relatif rendah adalah elemen ekonomi penting. Neraca perdagangan stabil. Negara-negara dengan dasar ekonomi yang solid cenderung lebih mampu mengatasi perubahan harga energi lebih cepat daripada negara-negara dengan struktur ekonomi yang rapuh (perspektif teori ketahanan ekonomi)

Situasi di Indonesia, ketika harga energi naik, kekuatan konsumsi domestik, sumber daya alam yang melimpah, dan pasar domestik yang besar sering berfungsi sebagai penyangga. Ini adalah situasi di Indonesia. Hampir semua bidang ekonomi, kenaikan harga BBM dianggap sebagai shock ekonomi yang bersifat sistemik secara akademik. Di antara efek utamanya adalah peningkatan inflasi melalui mekanisme pengaruh biaya, penurunan daya beli masyarakat, peningkatan biaya produksi dunia usaha, dan kemungkinan penurunan pertumbuhan ekonomi. Situasi ini menghasilkan apa yang disebut sebagai “ekonomi menahan napas”. Dengan kata lain, rumah tangga, bisnis, dan investor menjadi lebih berhati-hati saat membuat keputusan ekonomi. Namun demikian, jika fundamental ekonomi tetap kuat dan kebijakan fiskal dan moneter dijalankan dengan benar, dampak negatif kenaikan BBM dapat diminimalkan. Ini akan memastikan bahwa pertumbuhan dan stabilitas ekonomi tetap terjaga dalam jangka menengah dan panjang.

Awan Mendung Di atas Madura

Dibandingkan dengan daerah industri besar seperti Jawa Barat, Banten, atau bagian metropolitan Jawa Timur, dampak kenaikan harga BBM di Madura berbeda. BBM adalah komponen produksi yang sangat penting untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di Madura, karena struktur ekonominya masih didominasi oleh sektor perdagangan kecil, pertanian, perikanan, peternakan, jasa transportasi, dan usaha kecil dan menengah (UMKM). Menurut perspektif Regional Economic Structure Theory, karakteristik ekonomi daerah sangat memengaruhi dampak kebijakan ekonomi. Madura memiliki beberapa karakteristik, termasuk dominasi UMKM dan usaha keluarga, ketergantungan tinggi pada transportasi darat dan laut, dan sebagian besar distribusi barang berasal dari luar pulau. Karena sebagian besar kebutuhan pokok, bahan baku usaha, dan barang konsumsi didatangkan dari Surabaya dan daerah lain di Jawa Timur, kenaikan BBM akan langsung meningkatkan biaya logistik. Akibatnya, harga berbagai barang di pasar Madura cenderung meningkat lebih cepat dibandingkan di daerah dengan produksi lokal yang kuat.

BACA JUGA :  5 Pekerjaan yang Bisa Dilamar Tanpa Ijazah dan Bergaji Menjanjikan

UMKM merupakan inti ekonomi Madura. Ini termasuk industri batik, kerajinan keris, mebel, konveksi, pembuatan clurit, toko tradisional, dan pedagang pasar. Nelayan dan perusahaan yang menangani hasil laut. Menurut Theory of Production Cost, kenaikan BBM meningkatkan biaya berikut: transportasi bahan baku, distribusi produk, tenaga pemasaran, dan biaya operasional harian bisnis. Sebagai contoh, pengusaha batik Madura yang membeli bahan baku kain dan pewarna dari Surabaya akan mengalami biaya pengiriman yang lebih tinggi. Demikian pula, pengrajin mebel dan keris yang mengirimkan produk mereka ke luar wilayah akan mengalami biaya distribusi yang lebih tinggi. Margin keuntungan akhirnya menurun jika harga jual tidak dapat dinaikkan secara proporsional.

Nelayan adalah kelompok yang paling rentan terhadap kenaikan BBM.  BBM merupakan komponen biaya terbesar dalam operasi penangkapan ikan. Kenaikan harga solar dan BBM operasional menyebabkan penurunan frekuensi melaut di berbagai daerah pesisir Madura seperti Kabupaten Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Biaya operasi meningkat, jangkauan penangkapan ikan dipersempit, dan pendapatan nelayan menurun. Dalam jangka panjang, keadaan ini dapat berdampak negatif pada kesejahteraan keluarga nelayan serta mengurangi aktivitas ekonomi di pesisir. Kenaikan BBM menyebabkan inflasi, yang mengurangi kemampuan masyarakat untuk membeli barang dan jasa. Orang Madura masih menghabiskan banyak uang untuk hal-hal seperti makanan, transportasi, pendidikan, dan kebutuhan rumah tangga. Ketika biaya distribusi meningkat dan harga kebutuhan pokok meningkat, pendapatan riil masyarakat menurun. Hasilnya adalah penurunan konsumsi rumah tangga, penurunan permintaan terhadap produk UMKM, dan penurunan perputaran uang di pasar konvensional. Konsumsi lokal mendorong ekonomi Madura, jadi penurunan daya beli dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Perspektif Kewirausahaan Budaya Madura

Sangat menarik bahwa aspek budaya dan ekonomi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ekonomi Madura. Berbagai studi tentang kewirausahaan masyarakat Madura menemukan nilai budaya seperti kerja keras, sabar dan tabah menghadapi kesulitan, solidaritas kekerabatan, dan kehormatan. Keberanian mengambil risiko membantu pelaku usaha bertahan dalam situasi ekonomi yang sulit. Nilai-nilai budaya berfungsi sebagai modal sosial dan psikologis yang meningkatkan resiliensi usaha, menurut teori kewirausahaan budaya Carok (CCET), yang sedang berkembang dalam penelitian kewirausahaan Madura. Ini menunjukkan bahwa banyak pengusaha Madura tidak langsung menghentikan bisnis mereka ketika biaya produksi meningkat karena kenaikan BBM, tetapi mereka melakukan berbagai cara untuk beradaptasi, seperti mengurangi biaya yang tidak produktif. Memanfaatkan jaringan keluarga, diversifikasi bisnis, dan hubungan sosial untuk memperluas pasar

BACA JUGA :  Pendaftaran KKS Kini Bisa dari HP, Begini Mekanisme dan Syaratnya

Risiko Jangka Panjang bagi Madura

Akibat kenaikan harga BBM adalah penurunan ekonomi local atau perlambatan ekonomi dalam jangka panjang sebagai bahaya terbesar. Penurunan daya beli masyarakat adalah salah satu bahaya yang dapat muncul. Berkurangnya keuntungan UMKM, aktivitas perdagangan tradisional, pendapatan nelayan, investasi usaha kecil, dan kerentanan ekonomi rumah tangga miskin semuanya meningkat.Menurut teori ketahanan ekonomi regional, wilayah dengan tingkat produktivitas rendah dan ketergantungan tinggi terhadap pasokan luar wilayah akan lebih rentan terhadap guncangan harga energi. Dampak kenaikan BBM di Madura lebih besar pada sektor riil daripada sektor keuangan. Ini karena ekonomi Madura masih didominasi oleh UMKM, perdagangan tradisional, pertanian, peternakan, dan perikanan, yang sangat bergantung pada energi dan transportasi. Biaya logistik meningkat, yang mengakibatkan inflasi lokal, penurunan daya beli masyarakat, dan penurunan keuntungan bisnis. Sebaliknya, nilai-nilai budaya Madura yang menekankan kerja keras, keberanian, solidaritas kekerabatan, dan ketahanan hidup dapat berfungsi sebagai modal sosial yang membantu masyarakat melawan tekanan ekonomi. Oleh karena itu, dampak akhir kenaikan BBM terhadap Madura akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi kekuatan ekonomi utama provinsi dan kemampuan masyarakatnya untuk beradaptasi dengan budaya.

Risiko terbesar adalah perlambatan ekonomi struktural, yang ditunjukkan oleh penurunan daya beli masyarakat, penurunan profitabilitas UMKM, penurunan pendapatan nelayan, penurunan investasi, dan peningkatan kerentanan rumah tangga miskin. inflasi sesaat. Menurut teori ketahanan ekonomi regional, kurangnya produktivitas ekonomi lokal dan ketergantungan yang besar terhadap sumber daya luar adalah penyebab kerentanan ini. Oleh karena itu, untuk menjaga ketahanan ekonomi Madura secara berkelanjutan, rencana pembangunan ke depan harus berkonsentrasi pada meningkatnya produktivitas, diversifikasi ekonomi, dan meningkatnya kemampuan daerah untuk menyesuaikan diri dengan perubahan harga energi.

 

Oleh: Dr. ACHMARUL FAJAR, SE,MM, CELM, Dosen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Madura
IMG-20260504-WA0013
previous arrow
next arrow