Pamekasan – Mastapala UIN Madura menandai Hari Bumi Sedunia 2026 dengan aksi dan diskusi penanganan sampah pesisir. Kegiatan itu digelar di Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Selasa (21/4).
Ketua Mastapala UIN Madura Humaidi Nur Hidayat menjelaskan, kegiatan tersebut dikemas dalam forum group discussion (FGD). Panitia mengangkat tema Solusi dan Tantangan Penanggulangan Sampah di Desa Branta Pesisir.
Berbagai pihak dilibatkan, mulai dari pemerintah desa hingga organisasi kepemudaan dan instansi terkait.
Diantaranya, DLH Pamekasan, Dinas PUPR Pamekasan, BPBD Pamekasan, FRPB Pamekasan, KNPI Pamekasan, KNPI Jawa Timur, dan BKSDA Jawa Timur. Panitia juga mengundang PMI Pamekasam penggiat lingkungan, serta Mapala dan Sispala se-Madura.
“Ini bentuk pengabdian kami terhadap lingkungan. Kami ingin mengajak semua pihak duduk bersama mencari solusi atas persoalan klasik, yaitu sampah di wilayah pesisir,” ujarnya.
Menurut Humaidi, persoalan sampah pesisir tidak bisa diselesaikan secara parsial. Diperlukan kolaborasi lintas sektor agar solusi yang dihasilkan tidak berhenti pada wacana.
“Harapannya, dari diskusi ini muncul gagasan inovatif yang bisa langsung diterapkan,” katanya.
Setelah diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan aksi bersih-bersih sampah di kawasan pesisir Desa Branta Pesisir. Aksi tersebut menjadi langkah awal dalam mengawal isu lingkungan yang selama ini menjadi perhatian bersama.
Humaidi menegaskan, penanganan sampah membutuhkan komitmen jangka panjang. Karena itu, pihaknya berkomitmen untuk terus mengawal hasil FGD agar tidak berhenti sebagai agenda seremonial.
“Masalah sampah ini tidak bisa selesai dalam satu hari. Perlu tindak lanjut dan keterlibatan semua pihak secara konsisten,” tegasnya.
Aksi bersih-bersih tersebut mendapat respons positif dari berbagai kalangan. Sejumlah komunitas pecinta alam turut ambil bagian, termasuk perwakilan instansi dan organisasi kepemudaan.
Wakil Ketua Bidang Hukum dan HAM KNPI Jawa Timur Nur Faisal menginginkan agar partisipasi lintas elemen itu bisa menjadi awal gerakan bersama dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Tentunya, tidak hanya di pesisir Pamekasan.
Faisal menilai kegiatan tersebut menjadi langkah nyata dalam membangun kesadaran lingkungan di tingkat akar rumput. Dia mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan aksi lingkungan itu.
“Hal semacam ini penting untuk membangun kesadaran bersama. Penanganan sampah harus dilakukan secara kolaboratif dan berkelanjutan,” tukasnya. (rosy)
























