Pamekasan – Sikap Koordinator Wilayah (Korwil) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Pamekasan, Hariyanto, menuai sorotan setelah sejumlah pemberitaan yang beredar dianggap tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta di lapangan.
Pernyataan tersebut, disampaikan Hariyanto dalam forum audiensi forum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Gedung Kantor Bupati Pamekasan pada Rabu (8/4/2026).
Sebelumnya, Koordinator Wilayah MBG Pamekasan menyandingkan pemberitaan yang tidak sesuai fakta pada menu makanan di salah satu sekolah di wilayah setempat.
Padahal dalam video dan pemberitaan yang ada, menurutnya tidak ditampilkan atau di jelaskan secara utuh sesuai menu yang di salurkan.
“Contohnya di SMAN 2 Pamekasan beberapa waktu lalu. Karena selain menu lele, tahu dan tempe yang divideokan itu, ada menu lain yang disajikan, yaitu susu, telur dua dan buah naga. Faktanya, dari video itu tidak ditampilkan,” katanya, Rabu (8/4/2026).
Meski demikian, di lain sisi muncul keluhan dan beberapa pertanyaan dari sejumlah jurnalis yang mengaku kesulitan mendapatkan konfirmasi dan keterangan dari pihak yang bersangkutan.
Upaya konfirmasi yang dilakukan disebut belum mendapat respons, bahkan terkesan menutup pintu dalam memberikan klarifikasi atas isu-isu yang berkembang.
Menanggapi hal itu, Ketua Satgas MBG Pamekasan, H. Sukriyanto mewakili koordinator Wilayah MBG akhirnya menyampaikan permohonan maaf atas minimnya respons yang diberikan.
Pihaknya mengakui bahwa dalam beberapa waktu terakhir banyak permintaan wawancara dan konfirmasi yang belum dapat ditindaklanjuti.
“Kami mohon maaf atas ketidakresponsifan kami, baik dari satgas maupun Korwil. Memang sejak kemarin banyak rekan media yang meminta tanggapan terkait menu dan berbagai problem -problem di lapangan,” ungkapnya
Karena itu, orang nomor dua di Pamekasan itu mengajak rekan-rekan media untuk saling mendukung dan mengawal pelaksanaan program MBG agar informasi yang beredar tidak simpang siur.
“Karena itu, kami ke teman-teman media untuk terus mengawal bersama -sama ke bawah, sehingga tidak ada kesimpang siuran” pungkas H. Sukriyanto. (farid/rosy)
























