Scroll untuk melanjutkan membaca
Artikel

Ketika Layar Menjadi Guru; Refleksi Filsafat Ilmu Terhadap Pendidikan di Era Digital

Avatar
×

Ketika Layar Menjadi Guru; Refleksi Filsafat Ilmu Terhadap Pendidikan di Era Digital

Sebarkan artikel ini

Oleh : Insiyatul Fikriyah

Seiring berkembangnya teknologi, kita perlu merefleksikan bagaimana teknologi menggeser hakikat ilmu dan proses belajar, serta mengapa pendidikan karakter tetap membutuhkan interaksi manusia. Seperti yang kita ketahui, interaksi antar manusia dengan layar ponsel atau komputer kian erat. Tidak memandang batas usia, dari balita hingga lansia semuanya mulai beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

Scroll untuk melanjutkan membaca
Scroll untuk melanjutkan membaca

Kepraktisan teknologi memudahkan anak-anak untuk belajar tanpa perlu datang langsung ke sekolah. Mereka cukup duduk manis dan mengakses materi dari layar. Beragam sumber belajar tersaji secara instan, bahkan memungkinkan anak-anak memahami materi sebelum guru menjelaskannya di kelas.

Berbeda sekali dengan zaman dahulu, keterbatasan sumber belajar dan media pembelajaran mengharuskan semua siswa mendatangi sumber ilmu setiap hari. Interaksi antara guru dan siswa dilakukan secara langsung dengan tatap muka sehingga waktu belajar pun terbatas.

Namun, seiring berkembangnya zaman, sistem pendidikan mulai berubah. Pengetahuan dapat mereka peroleh dari ponselnya masing-masing yang dapat mereka akses dimana saja dan kapan saja. Apakah pendidikan saat ini maknanya masih sama dengan pendidikan zaman dulu?

Teknologi berkembang begitu pesat sehingga sangat memungkinkan segala informasi dapat diakses dengan mudah. Algoritma pencarian juga semakin canggih dan instan apalagi dengan maraknya Artificial Intelligence (AI) di berbagai platform memudahkan pengguna menelusuri apa yang ingin diketahui. Dalam perspektif epistemologi, teknologi mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan dari proses pencarian yang aktif menjadi konsumsi informasi yang pasif.

Dengan demikian, ilmu sudah mulai bergeser dari proses pencarian makna menjadi pencarian informasi karena bisa dikatakan adanya teknologi sudah mengubah pola pikir manusia untuk mengenal dunia. Teknologi sudah mengubah cara manusia memahami pengetahuan. Dari perubahan tersebut, mempengaruhi perubahan pada  cara belajar, cara berinteraksi dan cara membentuk karakter.

BACA JUGA :  Iuran BPJS Ketenagakerjaan Didiskon 50 Persen, Ini Daftar Penerima Manfaatnya

Secara aksiologis, teknologi tidak netral karena dapat membawa nilai kecepatan, efisiensi, dan instan. Nilai-nilai ini perlahan membentuk cara anak memaknai belajar. Tak dapat dipungkiri lagi, adanya teknologi memang mendatangkan banyak manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat di berbagai bidang utamanya di bidang pendidikan.

Akses pengetahuan terjangkau lebih luas dari sebelum-sebelumnya, masyarakat yang hidup di daerah-daerah terpencil dapat belajar langsung secara virtual kepada para ilmuwan di luar negeri bahkan update informasi mengenai pendidikan baik didalam negeri maupun diluar negeri juga sudah sangat intens dan dilengkapi dengan database yang diperlukan.

Namun, banyak yang masih belum disadari oleh para pengguna aktif teknologi. Ketika pembelajaran sudah mulai bergantung pada layar, interaksi antar manusia mulai rendah. Orang-orang yang dekat menjadi terasa semakin jauh sementara yang jauh terasa menjadi lebih dekat.

Mengapa demikian? Proses pembelajaran yang awalnya dilaksanakan dalam satu ruangan dengan kondisi ramai menjadi kegiatan individu yang sunyi. Dengan demikian, dapat dilihat bagaimana ilmu sudah mulai kehilangan konteks sosial dan nilai kemanusiaan.

Maka patut ditanyakan jika pengetahuan hadir tanpa adanya usaha, apakah masih bisa disebut ilmu? Bagaimana filsafat ilmu memandang makna pengetahuan di era digital? Banyak yang perlu kita refleksikan makna ilmu dari sudut pandang filsafat. Ilmu tidak hanya sekedar menggali informasi, melainkan ilmu juga harus benar-benar dipahami, direfleksikan asal muasal yang dipelajari.

Perlu diketahui juga bahwa filsafat menjadi dasar dari lahirnya suatu ilmu, yang kemudian ilmu melahirkan teknologi yang canggih. Ilmu sudah semakin banyak disebarkan di berbagai platform teknologi .

BACA JUGA :  5 Cara Ampuh Mengurangi Lemak Perut Tanpa Perlu Latihan Berat

Namun tidak cukup sampai ilmu saja, pendidikan karakter belum tentu turut tertanam dalam diri anak-anak. Oleh karena itu, peran filsafat sangat penting untuk menanamkan karakter di tengah-tengah teknologi yang hampir menggantikan posisi guru.

Filsafat ilmu memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak di era digital dengan menguatkan nilai-nilai kemanusiaan yang mulai terkikis. Sudut pandang konstruktivisme, pengetahuan dan nilai tidak dapat dibentuk secara individual, melainkan harus melalui proses interaksi, kolaborasi dan diskusi antar guru, teman dan orang-orang sekitar.

Dengan demikian, pendidikan karakter dapat tertanam dari nilai-nilai yang dihasilkan dari rasa tanggung jawab, toleransi, empati, jujur dan menghargai pendapat sesama. Pendidikan karakter tidak bisa tumbuh dengan sendirinya hanya dengan menatap layar ponsel atau laptop melainkan melalui proses pengalaman nyata.

Pengetahuan perspektif filsafat ilmu tidak bisa dipahami hanya dengan sekedar mengumpulkan informasi saja, melainkan harus melalui proses berpikir, melakukan refleksi dari materi yang sudah dipelajari dan perlu juga pengalaman secara langsung agar pengetahuan yang diperoleh tidak hanya sekedar teori saja.

Selain itu perlu diingat juga bahwa ilmu lahir dari hasil interaksi antar individu atau sekelompok orang yang memiliki rasa ingin tahu dan objek yang menjadi target untuk dipahami. Selaras dengan sudut pandang behaviorisme bahwa hasil belajar dari seseorang dapat dilihat dari bagaimana perubahan perilaku, keterampilan dan pengetahuan yang terjadi dalam dirinya.

Dengan demikian, perubahan tersebut dapat diperbaiki melalui proses interaksi antara guru dan peserta didik melalui stimulus respon baik berupa instruksi, pelatihan maupun penguatan yang kemudian melahirkan perubahan perilaku. Adanya teknologi memang cukup fleksibel untuk membantu proses belajar.

BACA JUGA :  Pendaftaran PLN 2025 Ditutup, Cek Jadwal Pengumuman dan Tes Selanjutnya

Platform yang tersedia di layar memberikan stimulus yang lebih cepat terhadap anak sehingga anak-anak dapat cepat merespons materi yang sedang dipelajari. Namun, di balik kepraktisan itu dapat memungkinkan interaksi sosial anak antar manusia rendah sehingga nilai perubahan perilaku cenderung tidak tahan lama.

Ketika layar menjadi guru, apa yang akan terjadi? apakah hakikat pengetahuan akan ikut berubah? apakah kira-kira anak-anak benar-benar memahami apa yang mereka pelajari? atau yang mereka lakukan hanya sekedar mengumpulkan informasi?

Secara ontologis, teknologi mengubah cara anak memahami dan melihat realitas. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang mendampingi peserta didik di tengah derasnya arus informasi.

Teknologi memang mampu menyajikan informasi, materi, dll., tetapi apakah peran guru benar-benar dapat tergantikan sepenuhnya? Peran guru tidak bisa digantikan hanya saja perannya bergeser secara fundamental.

Teknologi memang bisa menyediakan segala informasi yang kita cari, menyajikan secara instan materi yang ingin kita pelajari. Namun, hanya guru yang dapat menumbuhkan karakter, menanamkan nilai-nilai bahkan memahami karakteristik dan kemampuan peserta didik.

Oleh karena itu, peran guru sangat penting dalam proses belajar menuju pengalaman yang nyata dan manusiawi.

Teknologi memang sudah menyediakan informasi yang lengkap, akurat dan fleksibel untuk dipelajari, namun hanya guru yang dapat membuat pembelajaran bermakna dan mencetak peserta didik yang berkarakter. Oleh karena itu, teknologi dapat menjadi guru kedua, tetapi tidak akan pernah menjadi guru utama. Hakikat ilmu, karakter, dan realitas tidak bisa tumbuh tanpa interaksi.

IMG-20260406-WA0021
previous arrow
next arrow