Scroll untuk melanjutkan membaca
Opini

Seribu Cerita di Balik Gelapnya Malam

Avatar
×

Seribu Cerita di Balik Gelapnya Malam

Sebarkan artikel ini
Moh. Kurdi, (Foto/Dok. Terukur.id)

Tidak semua individu yang terjebak dalam kehidupan malam adalah mereka yang hilang arah. Beberapa di antara mereka hanya sedang berusaha menemukan tempat untuk diterima, mencari seseorang yang mau mendengarkan, atau butuh jeda dari kerasnya realitas. Namun, ada juga yang tersesat karena berpikir bahwa kemewahan lampu, irama musik, dan kebangkitan semangat sesaat adalah solusi untuk kegelisahan yang mereka hadapi.

Setiap malam menyimpan kisah yang tidak terlihat. Ada yang tertawa paling nyaring, padahal menyimpan luka yang sangat dalam. Beberapa terus mengangkat gelas, bukan karena bahagia, melainkan untuk melupakan persoalan yang tak kunjung usai. Ada pula yang berpindah dari satu keramaian ke yang lain karena takut pada kesendirian yang harus dihadapi.

Sosiolog asal Prancis, Michel Maffesoli, dalam bukunya “The Time of the Tribes” (1996), menerangkan bahwa manusia masa kini memiliki keinginan yang mendalam untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas yang disebut (neo-tribes). Mereka mencari penerimaan, pengakuan, dan ingin merasa memiliki suatu tempat. Dalam pencarian ini, orang sering ikut serta dalam perilaku kelompoknya, meskipun hal itu bertentangan dengan prinsip yang biasanya dianut.

BACA JUGA :  PPPK Paruh Waktu 2025 Wajib Tahu, Ini Tunjangan dan Hak yang Bisa Didapat

Pesan yang dapat diambil dari pemikiran Maffesoli bukanlah bahwa komunitas itu merugikan. Sebaliknya, komunitas merupakan kebutuhan mendasar manusia. Yang perlu dipikirkan adalah lingkungan yang kita pilih secara perlahan akan membentuk cara pandang, kebiasaan, bahkan masa depan kita. Hal yang awalnya hanya dianggap “ikut teman” dapat berkembang menjadi suatu kebiasaan. Apa yang tadinya terasa asing akhirnya menjadi sesuatu yang biasa.

Di sinilah dunia malam memberikan wawasan yang penting. Ia mengajarkan bahwa tidak semua keramaian mampu mengusir rasa kesepian, tidak semua kebebasan membawa ketentraman, dan tidak semua kesenangan menghasilkan kebahagiaan. Ada kepuasan yang hanya bertahan sesaat, namun menyisakan penyesalan yang jauh lebih mendalam.

BACA JUGA :  Ada Elit Politik yang Jadi Beking Perkara Rokok Ilegal di Madura

Dengan demikian, pengalaman terjebak dalam dunia malam tidak selalu harus berujung pada kegagalan. Bagi beberapa orang, dari pengalaman itulah kesadaran untuk bertransformasi lahir. Mereka mulai menyadari bahwa yang sebenarnya mereka cari bukanlah kerasnya musik atau lamanya perayaan, melainkan ketenangan jiwa, persahabatan yang tulus, dan lingkungan yang dapat membantu mereka berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Michel Maffesoli menyampaikan bahwa manusia selalu mencari “suku” yang membuat mereka merasa diterima. Oleh karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah apakah kita memiliki komunitas, tetapi komunitas seperti apa yang membentuk diri kita. Sebab, seseorang secara perlahan akan mencerminkan nilai-nilai yang berlaku di lingkungan di mana mereka menghabiskan waktu.

BACA JUGA :  Update Tarif Listrik PLN Terbaru: Berlaku 22–28 September 2025

Mungkin di sinilah terletak makna terdalam dari seribu cerita di balik kegelapan malam. Bukan tentang siapa yang paling sering keluar malam, dan bukan pula tentang siapa yang paling bebas menikmati kehidupan yang glamor. Melainkan tentang keberanian untuk belajar dari pengalaman. Bahwa setiap langkah yang pernah salah dapat menjadi pendidik terbaik jika membangkitkan kesadaran untuk memperbaiki diri.

Pada akhirnya, malam bukan untuk disesali, melainkan untuk direnungkan. Sebab fajar selalu kembali dengan kesempatan yang baru. Dan manusia terkuat bukanlah mereka yang tidak pernah tersesat, tetapi mereka yang mampu menjadikan setiap kegelapan sebagai pelajaran untuk menemukan cahaya yang lebih baik.

Oleh : Kurdi Born, Jurnalis Terukur.id
IMG-20260724-WA0013
previous arrow
next arrow