Pada setiap organisasi atau kelompok pasti ada satu sosok seperti ini, suaranya paling lantang saat ada yang salah. Jarinya paling cepat menunjuk. Kata “kenapa bisa begini?”, “siapa yang bertanggung jawab?”, “kerja kalian ini gimana?” keluar lebih dulu daripada “bagus” atau “terima kasih”.
Keberadaannya bikin ruangan hening. Tegurannya bikin beberapa orang takut salah lagi. Banyak yang bilang dia pemimpin yang menekan. Pemimpin yang pemarah. Bahkan tidak jarang dia memaki habis-habisan jika ada tangung jawab yang tidak diselesaikan dengan baik.
Tetapi jika kita tarik lebih dalam setiap orang pasti memliki sisi yang tidak semua orang tau. Di titik itulah kita akan melihat sisi lain. Sisi yang tidak pernah dia tunjukkan di depan umum.
1. Kenaifan Bernama “Tegaskan Saja”
Mungkin dia memang tidak tahu cara lain untuk memimpin. Di kepalanya, satu-satunya jalan agar organisasi atau kelompok ini maju adalah dengan didorong. Dengan ditekan. Dengan dimarahi kalau melenceng. Karena baginya, waktu tidak bisa ditunggu. Target tidak bisa dikompromi. Nama baik kelompok ada di pundaknya.
Dan besar kemungkinan ia berpegang pada pepatah yang kira-kira maksudnya begini “keris bisa melahirkan lekukan indah karana ditempa,” sehingga pimpinan menganalogikan anggotanya akan dijadikan keris yang indah.
Tetapi mungkin juga ia lupa bahwa tidak jarang besi yang menerima tempaan begitu kuat akan patah dan gagal menjadi keris.
Ia lupa juga bahwa tidak semua orang bergerak karena takut. Ada yang justru mati gaya saat diteror kesalahan.
Itulah kenaifannya. Niatnya baik: ingin semua disiplin, ingin semua sukses. Tapi caranya masih seperti palu. Padahal tidak semua masalah adalah paku.
Ia tidak sadar, setiap bentakan yang keluar, juga memadamkan sedikit keberanian anak buahnya untuk mencoba hal baru.
2. Kebaikan yang Diselipkan Rapi
Namun di balik wajah garang itu, ada kebaikan yang ia sembunyikan. Dia yang paling pertama datang saat ada anggota tim sakit, menaruh rasa kasian tetapi tidak ditampakkan seperti kemarahan yang sering ia pertontonkan.
Dia yang paling vokal mengkritik di rapat, tapi juga yang paling depan memuji timnya saat acara sukses digelar . “Itu tanggung jawab saya,” katanya.
Terkadang juga dia diam-diam merekomendasikan nama anak buahnya untuk pelatihan dan promosi.
Dia yang pulang paling akhir saat deadline mepet. Bukan karena ingin dipuji. Tapi karena dia merasa gagal kalau organisasinya tidak berhasil.
Kebaikannya tidak pernah diumumkan. Ia selipkan di sela-sela keputusan, di balik pintu ruangan, di dalam catatan kecil yang tidak pernah diperlihatkan. Karena mungkin, memuji dan merangkul bukanlah bahasa yang dia kuasai.
3. Antara Maksud dan Cara
Masalahnya bukan pada tujuannya. Tujuannya jelas: membawa organisasi atau kelompok ini ke tempat yang lebih baik. Menjadi pemenang. Menjadi teladan. Masalahnya ada pada cara.
Kemarahan dan tekanan bisa melahirkan hasil jangka pendek. Tapi ia juga melahirkan luka jangka panjang: tim yang tidak kreatif, tidak berani bicara, dan hanya menunggu perintah.
Pemimpin seperti ini sebenarnya butuh 2 hal: dipahami dan diluruskan.
Dipahami, karena di hatinya ada api. Ada cinta pada organisasi.
Diluruskan, karena api tanpa arah bisa membakar orang-orang yang seharusnya dia pelihara.
Penutup: Pimpinlah dengan Dua Tangan
Satu tangan untuk menunjuk arah dan menegakkan standar. Itu perlu.
Satu tangan lagi untuk merangkul dan menguatkan. Itu juga perlu.
Kepada para “pemimpin pemarah” di luar sana: kami tahu kamu lelah. Kami tahu kamu ingin yang terbaik untuk kami. Tapi izinkan kami bertumbuh bukan karena takut padamu, melainkan karena percaya padamu.
Dan kepada kami, para anggota tim: sebelum kita menghakimi, lihatlah dulu. Mungkin di balik bentakan itu, ada doa yang tidak pernah dia ucapkan. Ada harapan yang ia selipkan diam-diam.
Karena pada akhirnya, memimpin bukan hanya soal mencapai tujuan. Tapi juga soal memastikan tidak ada orang yang tertinggal dalam perjalanan.

























