Scroll untuk melanjutkan membaca
Budaya

Renungan Kebudayaan dan Spritualitas Nusantara “Bumi Gerbang Salam”

Avatar
×

Renungan Kebudayaan dan Spritualitas Nusantara “Bumi Gerbang Salam”

Sebarkan artikel ini
Syafiih Kamil, (Foto/Dok. Terukur.id)

Resepsi Nur Muhammad Meneguhkan Sumpah Kesadaran, Meruwat Cahaya Leluhur, dan Menyambungkan Kembali Rahim Peradaban Nusantara

 

Ada saat ketika sebuah bangsa perlu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk zamannya. Bukan untuk melarikan diri dari sejarah, melainkan untuk menengok kembali ke dalam dirinya: dari mana ia berasal, nilai apa yang diwariskan kepadanya, dan kemana sesungguhnya perjalanan peradabannya hendak diarahkan.

Sebab bangsanyang kehilangan ingatan tentang leluhurnya perlahan-lahan akan kehilangan arah masa depannya.Ia mungkin tumbuh secara ekonomi, berkembang secara teknologi, bahkan tampil dalam percaturan dunia, tetapi tanpa akar kebudayaan, kemajuan dapat berubah menjadi kemegahan yang kehilangan jiwa.

Disinilah Madura menemukan kembali maknanya.

Bukan semata-mata sebagai sebuah pulau dengan bentang alam, tradisi, bahasa, dan sejarahnya, melainkan sebagai ruang kesadaran tempat manusia belajar mengenali kembaliasal-usul, kehormatan, dan tanggung jawab kemanusiaannya.

Bumi Gerbang Salam bukan sekadar identitas geografis. Ia adalah sebuah pernyataan peradaban: bahwa keselamatan, kedamaian, dan kemuliaan manusia harus menjadi tujuan tertinggi kehidupan bersama.

Membuka Kembali Gerbang Leluhur

Pemuda Madura sedang berikhtiar memperbarui dan meneguhkan kecintaan mereka kepada tanah kelahiran, kepada Madura, dan kepada Nusantara.

Namun kecintaan kepada tanah air tidak boleh berhenti pada romantisme masa lalu, kebanggaan primordial, atau pengagungan simbol-simbol kebudayaan. Cinta sejati menuntut tanggung jawab intelektual danmoral. Ia harus melahirkan keberanian untuk memahami sejarah, merawat warisan, mengoreksi kekeliruan, serta membangun masa depan.

Melalui pintu sejarah M.Tabrani dan jejak panjang para leluhur, generasi muda Madura sedang mencoba membuka kembali gerbang yang selama ini mungkin hanya kita pandang sebagai peninggalan masa silam.

M. Tabrani bukan sekadar nama yang perlu dikenang. Ia merupakan salah satu pintu pentinguntuk memahami bagaimana kesadaran kebangsaan Indonesia pernah diperjuangkan melaluibahasa, gagasan, dan keberanian intelektual.

Dari Madura, kita belajar bahwa identitas lokal bukanlah penghalang bagi persatuan nasional. Justru kebudayaan lokal merupakan sumber energi yang memperkaya rumah besar bernama Indonesia.

Sebab Nusantara tidak dibangun dengan menghapus perbedaan, melainkan dengan mempertemukan beragam akar dalam satu kesadaran kemanusiaan.

Meruwat Cahaya Leluhur: Kebudayaan sebagai Sumber Kesadaran

Kehadiran Budayawan Agung, Mas Bambang Oeban, menjadi bagian penting dari ikhtiar ini.

Beliau mengetuk kesadaran kita untuk belajar menghargai warisan cahaya leluhur. Sebuah ajakan agar kebudayaan tidak diperlakukansebagai benda mati yang hanya dipajang di museum, dipertontonkan dalam festival, atau dikenang dalam pidato-pidato seremonial.

Kebudayaan sejatinya adalah sistem nilai yang hidup.

Di dalamnya terdapat etika, kesantunan, keberanian, kebijaksanaan, gotong royong, penghormatan terhadap kehidupan, dan kesadaran tentang hubungan manusia dengan alam semesta.

Meruwat leluhur bukan berarti membelenggu diri dalam masa lalu. Meruwat adalah membersihkan hubungan kita dengan sejarah, mengambil hikmah dari perjalanan generasi terdahulu, dan membebaskan masa depan dari kesombongan generasi hari ini.

Leluhur tidak membutuhkan pemujaan yang membutakan. Yang mereka wariskan kepada kita adalah tanggung jawab untuk meneruskan kebaikan dan memperbaiki apa yang belum selesai.

Di sinilah kebudayaan menemukan kedudukan filosofisnya: bukan sekadar warisan, melainkan amanah.

Ikrar Sumpah Pemuda 3.0: Dari Kesatuan Wilayah Menuju Kesatuan Kesadaran

BACA JUGA :  Bawa Puluhan Jerigen ke Ruang Sidang DPRD, Nelayan Jumiang Protes Kelangkaan Solar

Ditengah ikhtiar besar ini, Mas Arief Wibisono, Mas Khairul Umam, dan kawan-kawan berjibaku mempersiapkan sebuah momentumikrar: Sumpah Pemuda 3.0–Resepsi Nur Muhammad.

Sebuah ikhtiar untuk membaca kembali perjalanan sejarah bangsa melalui tiga lapisan kesadaran.

Pertama, Sumpah Palapa, yang dalam ingatan kolektif Nusantara menjadi simbol cita-cita penyatuan wilayah dan kekuatan politik kepulauan.

Kedua, Sumpah Pemuda1928, yang meneguhkan kesadaran tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan: Indonesia.

Ketiga, Sumpah Pemuda 3.0, yang dalam gagasan ini hendak membawa perjalanan kebangsaan menuju tingkat kesadaran yang lebih dalam: kesatuan nilai, kesatuan martabat, dan kesatuan tanggung jawab kemanusiaan.

Jika Sumpah Palapa berbicara tentang penyatuan wilayah, dan Sumpah Pemuda berbicara tentang penyatuan identitas kebangsaan,maka Sumpah Pemuda 3.0 hendak mengajakkita memasuki ruang pertanyaan yang lebih mendasar:

Untuk apa kita bersatu, jika persatuan itu tidak melahirkan kemanusiaan?

Apa arti satu bangsa jika rakyatnya kehilangan keadilan? Apa arti satu bahasa jika kata-kata tidak lagi dipercaya? Apa arti kemerdekaan jika manusia masih diperbudak keserakahan, kebencian, dan nafsunya sendiri?

Karenaitu, Resepsi Nur Muhammad bukan dimaksudkan sebagai pengganti sejarah, melainkan sebagai tawaran pembacaan spiritual atas perjalanan kebangsaan.

Dalam tradisi spiritual Islam, Nur Muhammad dipahami dalam beragam penafsiran sebagai simbol cahaya kenabian, rahmat, dan teladan kemuliaan akhlak. Dalam kerangka refleksi ini, cahaya tersebut menjadi metafora bagi kesadaran manusia untuk kembali kepadankasih sayang, keadilan, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap kehidupan.

Sebabnpersatuan tanpa akhlak dapat berubah menjadinkekuasaan. Identitas tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi fanatisme.Dan spiritualitas tanpa kemanusiaan dapat kehilangan makna sosialnya.

Secara spirit, ikhtiar ini senantiasa dibersamai oleh Sastrawan Agung, Abah Zawawi Imron, penggagas puisi tentang Ibu.

Dari beliau, kita belajar bahwa Ibu bukan sekadar tema sastra. Ibu adalah pintu pertama manusia mengenal kehidupan, kasih sayang, pengorbanan, dan bahasa cinta.

Malam Energi Semesta Ibu: Rahim Kesadaran dan Sumpah Keabadian

Malam Energi Semesta Ibu menjadi episentrum Cahaya Kesadaran.

Disinilah perjalanan intelektual dan spiritualmenemukan titik perjumpaannya.

Kita semua lahir dari rahim semesta. Sebelum mengenal batas-batas geografis, sebelum memiliki identitaskebangsaan, sebelum memahami perbedaan agama, suku, bahasa, dan golongan, kita terlebih dahulu hadir sebagai manusia yang menerima anugerah kehidupan.

Rahim adalah metafora paling purba tentang penciptaan, penerimaan, dan kasih sayang.

Ia mengajarkan bahwa kehidupan tidak dimulai dari perebutan, melainkan dari penerimaan. Tidak dimulai dari permusuhan, melainkan dari sebuah ruang yang memungkinkan kehidupan tumbuh.

Di dalam kesadaran spiritual Islam, kitamengenal dialog primordia lantara Tuhan dan manusia sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an:

Alastu bi rabbikum? Qālū balā, syahidnā.

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?”Mereka menjawab, “Betul, kami bersaksi.”(QS.Al-A’raf:172).

Inilah yang dalam perenungan kita dapat disebut sebagai sumpah primordial: kesaksian tentang asal-usul spiritual manusia, tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Sebelum manusia bersumpah atas nama bangsa, negara, organisasi, atau kekuasaan, terdapat kesaksian yang lebih mendasar: pengakuanbahwa kehidupan bukan milik manusia secara mutlak.

Dari sini lahir sebuah konsekuensi etis yang sangat besar.

BACA JUGA :  Terpilih Jadi Ketua Dewan Kesenian Pamekasan, Arief Tegaskan Komitmen Bawa Kemajuan

Jika kita pernah bersaksi di hadapan Tuhan, mengapa kita begitu mudah mengkhianati sesama manusia?

Jika kehidupan merupakan amanah, mengapa kita begitu mudah merusak bumi?

Jika setiap manusia berasal dari kehendak penciptaan yang sama, mengapa perbedaan justru menjadi alasan untuk saling meniadakan?

Malam Energi Semesta Ibu mengajak kita mengingat kembali kesaksian itu. Bukan untuk mengklaim bahwa manusia memiliki ingatan empiris tentang peristiwa primordial, melainkan untuk menghidupkan kesadaran moral yang terkandung di dalamnya.

Ibu adalah rahim kehidupan. Tuhan adalah sumber kehidupan. Dan manusia adalah pemegang amanah untuk menjaga kehidupan.

Resepsi Nur Muhammad di Bumi Gerbang Salam

Resepsi Nur Muhammad di Bumi Gerbang Salam, Madura, berlangsung dalam suasana khidmat dan sakral.

Kehadiran KH. Abbas Rofi’i Katandur, Lc., Ayahanda KH. Kholilurrahman, para sesepuh, tokoh masyarakat, serta pemuda Madura menjadi bagian dari pertemuan lintas generasi yang sarat makna.

Disana hadir pula Bang Ali, Sang DermawanAgung, bersama berbagai elemen yang menyatukan ikhtiar dalam semangat persaudaraan.

Pertemuan ini bukan sekadar perjumpaan tokoh dan generasi muda. Ia merupakan pertemuan antara ingatan dan harapan, antara kebijaksanaan masa lalu dan kegelisahan masa depan.

Para sesepuh membawa pengalaman sejarah. Para budayawan membawa ingatan kebudayaan. Para ulama membawa kedalaman nilai dan tuntunan akhlak. Para pemuda membawa energi perubahan.

Keempatnya perlu dipertemukan dalam satu kesadaran: bahwa masa depan tidak dapat dibangun oleh satu generasi saja.

Sebuah bangsa membutuhkan kebijaksanaan para tetua, kejernihan para pemikir, ketulusan para pemimpin spiritual, dan keberanian generasi mudanya.

Disinilah Resepsi Nur Muhammad menemukan makna sosialnya: menghidupkan kembali ruang perjumpaan manusia yang berbeda-beda, tetapi memiliki tanggung jawab yang sama terhadap kehidupan.

Madura sebagai Pemadam Kebakaran Peradaban

Dunia hari ini sedang menghadapi krisis yang tidak sederhana.

Kebakaran ekologis, konflik geopolitik, pertarungan kepentingan ekonomi, polarisasi sosial, kekerasan identitas, sertakrisis moral menunjukkanbbahwa manusia semakin mahir membangun peradaban material, tetapi belum tentu semakin bijaksana dalam mengelola hasratnya sendiri.

Kita sedang hidup dalam zaman ketika api tidak hanya membakar hutan, rumah, dan kota. Api juga dapat menyala di dalam pikiran, kepentingan, ideologi, bahkan dalam hati manusia.

Inilah darurat kebakaran hasrat dan nafsu manusia.

Dalam situasi seperti itu, Madura hendak mengambil posisi filosofis sebagai pemadam kebakaran peradaban.

Bukan dengan kekuatan untuk menaklukkan, bukan dengan kesombongan identitas, danbukan pula dengan menganggap diri paling benar.

Melainkan melalui keteguhan nilai, keberanian moral, penghormatan terhadap sesama,dan kesediaan menjadi jembatan perdamaian.

Madura memiliki tradisi kehormatan, keberanian, solidaritas, dan persaudaraan yang dapat terus digali secara kritis dan konstruktif. Nilai-nilai itu harus diterjemahkan menjadi kontribusi nyata bagi keamanan, kemanusiaan, dan perdamaian.

Kita membayangkan Madura sebagai pagarbetis kesadaran: sebuah barisan moral yang berdiri bukan untuk memusuhi siapa pun, melainkan untuk melindungi kehidupan.

Pagar betis yang tidak dibangun dari kebencian, tetapi dari keberanian menjaga perdamaian.

Pagar betis yang tidak membatasi pergaulan antar manusia, tetapi melindungi ruang perjumpaan agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.

BACA JUGA :  Korban Penipuan Travel Umroh Minta Keadilan di Polres Pamekasan

Dari Madura untuk Nusantara.Dari Nusantara untuk dunia.

Semoga Madura senantiasa menjadi salah satu sumber energi kebudayaan, persaudaraan, dan perdamaian global.

Insya Allah.

Sumpah yang Sesungguhnya: Mengembalikan Manusia kepada Martabatnya

Pada akhirnya, Sumpah Pemuda3. tidak boleh berhenti sebagainama besar, peristiwa monumental, atau simbol kebanggaan generasi.

Sebuah sumpah hanya memiliki arti ketika iamengikat hati nurani dan diwujudkan dalam tindakan.

Karena itu,Resepsi Nur Muhammad harus dibaca sebagian dangan untuk melakukan pembaruan kesadaran.

Kita perlu melahirkan generasi yang tidak tercerabut dari akar budayanya, tetapi juga tidak terkurung oleh masa lalunya.

Generasi yang mencintai Madura tanpa merendahkan daerah lain. Mencintai Indonesia tanpa kehilangan persaudaraan dengan bangsa-bangsa lain. Memiliki keyakinan spiritual tanpa kehilangan penghormatan kepada manusia yang berbeda keyakinan.

Generasi yang berani memimpin, tetapi tidak haus kekuasaan. Berani berbicara, tetapi tidak memperdagangkan kebenaran. Berani berjuang, tetapi tidak kehilangan kasih sayang.

Sebab kebesaran manusia bukan terletak pada seberapa banyak ia mampu menguasai, melainkan seberapa besar kehidupan yang mampu ia lindungi dan muliakan.

Mungkin inilah makna terdalam dari perjalanan yang sedang kita ikhtiarkan.

Dari M. Tabrani kita belajar tentang keberanian merumuskan kesadaran kebangsaan. Dari para leluhur kita belajar tentang akar dan amanah kebudayaan.

Dari Abah Zawawi Imron kita diingatkan tentang rahim kasih sayang seorang Ibu. Dari para ulama kita belajar tentang tanggung jawab spiritual dan akhlak.

Dari para pemuda kita menaruh harapan tentang keberanian melanjutkan sejarah.

Dan dari Resepsi Nur Muhammad kita mencoba menemukan kembali cahaya yang seharusnya menerangi perjalanan manusia: kasih sayang, keadilan, kebijaksanaan, dan persaudaraan.

EPILOG

Bumi Gerbang Salam: Dari Rahim Ibu Menuju Rahim Peradaban

Barangkali, pada akhirnya, seluruh perjalanan peradaban manusia adalah perjalanan panjang untuk pulang.

Pulang kepada kesadaran tentang asal-usul. Pulang kepada kebijaksanaan leluhur.Pulang kepada kasih sayang Ibu. Pulang kepada Tuhan. Dan pulang kepada kemanusiaan yang sering kali kita tinggalkan di tengah perebutan dunia.

Madura adalah salah satu pintu untuk mengingat perjalanan pulang itu. Bumi Gerbang Salam.

Tempat kita meruwat ingatan, meneguhkanikrar, dan menyambungkan kembali cahaya antar generasi.

Kita tidak sedang membangun kultus masalalu. Kita sedang menyiapkan masa depan.

Kita tidak sedang mencari kejayaan dengan mengalahkan sesama. Kita sedang belajar menjadi manusia yang tidak lagi membutuhkan kehancuran orang lain untuk merasakan kemuliaan dirinya.

Dan jika dahulu generasi terdahulu mewariskan sumpah tentang tanah air, bangsa, dan bahasa, maka generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk menambahkan satu komitmen yang tidak boleh ditawar:

Jangan biarkan persatuan kehilangan kemanusiaannya. Jangan biarkan kebudayaan kehilangan kebijaksanaannya. Jangan biarkan spiritualitas kehilangan kasih sayangnya.

Sebab bumi ini bukan milik satu golongan. Kehidupan bukan milik satu bangsa. Dan cahaya tidak diciptakan untuk dipenjarakan oleh batas-batas manusia.

Dari Bumi Gerbang Salam, kita menyalakan kembali ikhtiar itu.

Satu Rahim Kehidupan.Satu Kesadaran Kemanusiaan. Satu Amanah Peradaban. Madura untuk Nusantara. Nusantara untuk Dunia.

Bismillah. Salam. Rahmat bagi seluruh alam

Oleh: Syafiih Kamil
Oplus_0
previous arrow
next arrow