Pamekasan – Dewan Kesenian Pamekasan (DKP) bersama Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) bergerak menghidupkan kembali ingatan kolektif bangsa terhadap jasa M. Tabrani, putra asal Pamekasan yang tercatat sebagai tokoh penting penggagas lahirnya Bahasa Indonesia.
Upaya itu diwujudkan melalui rangkaian kegiatan bertajuk “Dari M. Tabrani untuk Indonesia”, mulai dari ziarah makam, tawasul, hingga sarasehan budaya.
Ketua DKP, Arief Wibisono, menegaskan kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni mengenang tokoh, melainkan gerakan untuk membuat generasi muda merasakan kebanggaan atas warisan peradaban dari tanah sendiri.
“Peradaban ini bukan sebatas arsip, tapi bagaimana generasi ini merasakan sebuah kebanggaan budaya masa lalu hingga sekarang,” ujarnya, Selasa (13/10/2026).
Pria yang akrab disapa Ayek itu menjelaskan, rangkaian kegiatan diawali pada 10 Oktober 2026, bertepatan dengan hari kelahiran M. Tabrani. Pada momen tersebut, perwakilan DKP berziarah ke makam M. Tabrani di TPU Tanah Kusir, Jakarta.
Ziarah itu dimaknai sebagai haul untuk mengenang sekaligus mendoakan tokoh pers nasional yang pada Kongres Pemuda 1928 mengusulkan penggunaan istilah “Bahasa Indonesia” menggantikan “Bahasa Melayu”.
“Dengan mengingat beliau kembali, kita wajib saling mendoakan. Apalagi, yang meninggal itu merupakan tokoh yang memiliki inisiatif terhadap sebuah peradaban,” terang Ayek.
Menurutnya, ziarah bukan hanya tradisi, tetapi cara merawat ikatan batin dengan pendahulu yang telah menyumbang identitas kebangsaan.
Tak hanya di Jakarta, DKP bersama AJP juga menggelar tawasul di kawasan Monumen Arek Lancor, Pamekasan, pada hari yang sama. Kegiatan itu menjadi simbol bahwa ingatan terhadap M. Tabrani dirawat dari daerah asalnya sendiri.
Sementara itu, Ketua Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP), M. Khairul Umam, menegaskan M. Tabrani bukan sekadar kebanggaan Madura, melainkan bagian dari sejarah nasional yang wajib dikenalkan ke generasi muda.
“Jangan sampai kita hanya mengenal tokoh-tokoh besar dari buku sejarah, tetapi lupa bahwa dari Pamekasan pernah lahir sosok yang ikut memberikan sumbangan penting bagi perjalanan Indonesia. M. Tabrani bukan hanya kebanggaan Madura, melainkan juga bagian dari sejarah bangsa,” ujarnya.
Menurutnya, mengenang M. Tabrani tidak cukup dengan ziarah dan seremonial. Gagasan dan keberaniannya harus dihidupkan kembali melalui pendidikan, diskusi kebudayaan, dan pemberitaan media.
“Yang perlu kita rawat bukan sekadar nama, tetapi juga gagasan dan keberaniannya. Generasi muda harus tahu bahwa tokoh dari daerahnya turut berperan dalam perjalanan Indonesia. Dari sana tumbuh kebanggaan sekaligus dorongan untuk berkarya dan memberikan kontribusi bagi bangsa,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan ini akan berpuncak pada sarasehan budaya bertema “Dari M. Tabrani untuk Indonesia”. DKP dan AJP berharap forum tersebut dapat menjadi ruang untuk membangkitkan kembali pemikiran M. Tabrani agar tidak berhenti sebagai pengetahuan sejarah, tetapi menjadi sumber inspirasi dan kebanggaan bagi generasi penerus. (*/Rosy)
















