Pamekasan – sepanjang tahun 2025, Dinas Sosial (Dinsos) Pamekasan mencatat sebanyak 40 warganya mengalami gangguan kesehatan jiwa.
Jumlah tersebut menunjukkan persoalan kesehatan mental masih menjadi tantangan serius, terutama bagi kelompok usia produktif di wilayahnya.
Kepala Dinsos Pamekasan, Herman Hidayat Santoso, mengatakan bahwa dari 40 ODGJ itu, sebanyak 30 orang merupakan laki-laki dan 10 lainnya perempuan, dengan rentang usia antara 30 hingga 60 tahun.
“Sekitar 75 persen penderita berasal dari kalangan laki-laki, sedangkan 25 persen sisanya perempuan,” katanya, Senin (15/12/2025).
Herman menambahkan, berdasarkan hasil asesmen Dinsos Pamekasan, ada beberapa faktor yang memicu terjadinya gangguan jiwa, mulai dari persoalan ekonomi, pengangguran, hingga konflik dalam rumah tangga.
Namun, hingga saat ini tekanan ekonomi menjadi faktor yang paling banyak ditemukan.
Menurut Herman, tidak sedikit kasus yang bermula dari konflik keluarga akibat pernikahan dini. Ketidaksiapan ekonomi dan emosional memicu pertengkaran berkepanjangan yang akhirnya berdampak pada kondisi psikologis.
“Konflik rumah tangga yang tidak terselesaikan sering kali berujung pada menurunnya kondisi ekonomi, lalu memicu depresi hingga gangguan jiwa,” jelasnya.
Untuk memastikan penanganan yang tepat, seluruh ODGJ tersebut telah dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya maupun RSJ Lawang guna mendapatkan perawatan intensif, ada yang sudah selesai ditangani dan dipulangkan, serta ada sebagian yang masih dirawat.
Meski demikian, Herman menegaskan bahwa peran keluarga tetap menjadi kunci utama dalam proses pemulihan.
“Selain perawatan medis dari rumah sakit, dukungan dan pendampingan keluarga sangat menentukan kesembuhan pasien,” pungkasnya. (farid/rosyi)


















