Scroll untuk melanjutkan membaca
Opini

KH. A. Badwi Sanusi: Pribadi Teguh dan Sederhana

Avatar
×

KH. A. Badwi Sanusi: Pribadi Teguh dan Sederhana

Sebarkan artikel ini
Kenangan : Almarhum KH. Badwi Sanusi saat Menerima Kunjungan Kapolri dan Panglima TNI, (Foto/Dok. Terukur.id)

KH. A. Badwi Sanusi merupakan pengasuh kedua Pondok Pesantren Sumber Mas, Rombiya Barat, Ganding, Sumenep, Madura, yang telah berdiri tiga tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Ia dikenal sebagai sosok kiai yang karismatik, lurus dalam sikap, teguh memegang prinsip, dan sederhana dalam menjalani kehidupan. Sebagian besar waktunya dicurahkan untuk mengasuh dan memimpin pesantren serta mengisi majelis-majelis taklim. Kehidupannya menunjukkan sosok seorang kiai yang berusaha menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam setiap langkahnya.

Keteguhan prinsip menjadi salah satu ciri yang paling menonjol dalam perjalanan hidup KH. A. Badwi Sanusi. Ia tidak mudah goyah oleh godaan duniawi, termasuk ketika berada dalam lingkungan politik yang sering kali menuntut sikap pragmatis. Padahal, sebagai seorang tokoh agama sekaligus tokoh politik, ia memiliki akses yang cukup luas untuk memperoleh berbagai kemudahan dan fasilitas. Namun, kesempatan tersebut tidak membuatnya mengubah gaya hidup. Ia justru memilih hidup sederhana sebagai jalan yang diyakininya.

Kesederhanaan itu menjadi semakin menarik jika dilihat dari posisi sosial dan jaringan yang dimilikinya. Menjelang Pemilihan Presiden 2019, KH. A. Badwi Sanusi pernah dikunjungi oleh dua tokoh penting negara, yakni Jenderal Polisi H. Muhammad Tito Karnavian dan Marsekal TNI Dr. (Hc) Hadi Tjahjanto, S.I.P. Kunjungan dua pejabat tinggi negara tersebut menunjukkan bahwa KH. A. Badwi Sanusi memiliki posisi dan pengaruh yang diperhitungkan, khususnya dalam lingkungan sosial-keagamaan dan politik. Namun, kedekatan dengan tokoh-tokoh penting tersebut tidak kemudian ia manfaatkan untuk mengejar kemewahan atau keuntungan pribadi.

Dalam dunia politik, KH. A. Badwi Sanusi aktif sebagai salah seorang tokoh Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kiprahnya di dunia politik berjalan beriringan dengan pengabdiannya di dunia pesantren. Kendati memiliki akses kepada berbagai kalangan politik dan pejabat tinggi negara, ia tidak menjadikan posisi politik tersebut sebagai sarana untuk kepentingan pribadi. Demikian pula, kiprahnya dalam politik tidak ia gunakan untuk mengejar keuntungan material bagi lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Sikap tersebut memperlihatkan upayanya untuk tetap menjaga independensi pesantren dan memisahkan kepentingan keagamaan dari kepentingan pragmatis politik.

BACA JUGA :  Jadwal PPG Tahap 3 Tahun 2025 Resmi Diumumkan, Ini Syarat dan Tanggal Pentingnya

Sikap hidup KH. A. Badwi Sanusi tidak dapat dilepaskan dari latar belakang pendidikan pesantren yang membentuk dirinya. Ia merupakan alumni Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan, salah satu pesantren besar yang memiliki tradisi keilmuan Islam yang kuat di Madura. Setelah itu, ia juga menimba ilmu di Pondok Pesantren Tempuran, Tempurejo, Jember. Pengalaman belajar di dua lingkungan pesantren tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter keilmuan dan keagamaannya. Tradisi kepesantrenan yang dijalaninya kemudian ia bawa dalam kehidupan pengabdian sebagai kiai dan pemimpin pesantren.

Salah satu karakter penting KH. A. Badwi Sanusi adalah keterbukaannya terhadap perbedaan. Baginya, perbedaan dalam corak pemikiran dan organisasi keislaman bukan alasan untuk memutus persaudaraan. Selama berada dalam bingkai Islam dan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah, perbedaan dapat diterima sebagai bagian dari dinamika kehidupan umat. Sikap tersebut tercermin dalam cara ia membangun hubungan dengan para santri dan masyarakat yang memiliki latar belakang pemikiran keislaman yang beragam. Ia tidak menjadikan perbedaan sebagai tembok pemisah, melainkan sebagai ruang untuk tetap saling menghormati dan bekerja sama dalam kebaikan.

Keterbukaan tersebut juga tercermin dalam perjalanan para alumninya. Salah seorang alumninya adalah Sunanto, yang lebih dikenal sebagai Cak Nanto, yang kemudian tampil sebagai tokoh nasional dan pernah dipercaya memimpin Pemuda Muhammadiyah. Kenyataan bahwa seorang alumni Pondok Pesantren Sumber Mas kemudian berkiprah dalam lingkungan Muhammadiyah menjadi salah satu gambaran bahwa pendidikan yang dibangun KH. A. Badwi Sanusi tidak terkungkung oleh sekat-sekat organisasi. Ia memberikan ruang kepada para santrinya untuk berkembang dan menentukan jalan pengabdiannya masing-masing, selama tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.

BACA JUGA :  Makan Bergizi Gratis atau Makan Berbahaya Gratis?

Dalam konteks kehidupan keislaman di Indonesia, sikap seperti ini merupakan warisan yang sangat berharga. Islam menjadi titik temu, sedangkan perbedaan menjadi bagian dari kenyataan yang harus disikapi dengan kedewasaan. Karena itu, keterbukaan KH. A. Badwi Sanusi bukanlah sikap tanpa prinsip, melainkan keterbukaan yang berakar pada keyakinan bahwa persaudaraan umat harus dijaga di atas perbedaan pilihan dan latar belakang. Jejak ini memperlihatkan keluasan pandangan seorang kiai dalam mendidik generasi dan membangun hubungan sosial-keagamaan.

Dalam kepemimpinannya di Pondok Pesantren Sumber Mas, KH. A. Badwi Sanusi berusaha mempertahankan prinsip-prinsip keagamaan sekaligus mengembangkan lembaga yang dipimpinnya. Masa kepemimpinannya terbilang membawa banyak perkembangan bagi pesantren. Berbagai kemajuan yang berlangsung selama masa kepemimpinannya menunjukkan bahwa keteguhan dalam memegang prinsip keagamaan tidak berarti menutup diri dari perkembangan. Sebaliknya, prinsip tersebut menjadi pijakan dalam mengarahkan perkembangan pesantren agar tetap berada dalam koridor nilai-nilai keislaman.

KH. A. Badwi Sanusi juga memiliki latar belakang genealogis yang menghubungkannya dengan mata rantai panjang sejarah keulamaan dan pemerintahan Sumenep. Ia disebut sebagai keturunan ke-10 Syekh Akbar Guluk Manjung, Bluto, seorang tokoh yang dikenal sebagai salah satu penyebar agama Islam di Madura. Dari jalur yang lain, ia juga masih memiliki hubungan keturunan dengan Tumenggung Tirtonegoro atau Bindereh Saot, penguasa Sumenep. Garis keturunan tersebut kemudian berlanjut melalui Raden Pasopati atau Kiai Nasiruddin, Raden Ayu Ummi, Raden Ayu Hanawati, Nyai Fathimah, Kiai Sanusi, hingga Kiai Badwi.

BACA JUGA :  Selamat Jalan Sang Ensiklopedi Berjalan, In memoriam Sir Mashur Abadi

Dengan demikian, KH. A. Badwi Sanusi berdiri dalam sebuah mata rantai sejarah yang mempertemukan tradisi keulamaan, pendidikan pesantren, dan sejarah sosial-politik Sumenep. Namun, kebesaran genealogis dan luasnya jaringan sosial-politik yang dimilikinya tidak menjadikannya seorang yang mengejar kemewahan. Justru kesederhanaan dan keteguhan prinsip menjadi karakter yang menonjol dalam kehidupannya.

Di tengah dunia politik yang sering mempertemukan kepentingan agama, kekuasaan, dan kepentingan material, KH. A. Badwi Sanusi memilih untuk tetap berpegang pada prinsip yang diyakininya. Ia menjalani peran sebagai kiai, pengasuh pesantren, pemimpin majelis taklim, sekaligus tokoh politik tanpa menjadikan salah satu posisi tersebut sebagai jalan untuk memperkaya diri. Bagi dirinya, pengaruh dan kedudukan lebih merupakan amanah daripada kesempatan untuk menikmati kemewahan. Sikap inilah yang menjadikan perjalanan hidupnya menarik untuk ditempatkan dalam sejarah perkembangan pesantren dan kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Madura.

Kini, pada 20 Agustus 2026, KH. A. Badwi Sanusi telah berpulang ke rahmatullah, meninggalkan keluarga, para santri, dan seluruh orang yang pernah mengenal serta merasakan ketulusan pengabdiannya. Kepergiannya menyisakan duka yang mendalam, tetapi juga meninggalkan jejak panjang tentang keistikamahan, kesederhanaan, keteguhan prinsip, keterbukaan, dan pengabdian yang akan menjadi inspirasi bagi para penerus dan santri-santrinya.

Oleh: Dr. A. Mufti Khazin, MHI.
IMG-20260724-WA0013
previous arrow
next arrow