Scroll untuk melanjutkan membaca
Opini

Elman Duro, Mantan Pengamen Jalanan Raih Gelar Doktor Berkat Doa Ibu Sebatang Kara.

Avatar
×

Elman Duro, Mantan Pengamen Jalanan Raih Gelar Doktor Berkat Doa Ibu Sebatang Kara.

Sebarkan artikel ini
Sosok Akademisi UIN Madura, Elman Raih Gelar Doktor, (Foto/Dok. Terukur.id)

Bagi sebagian orang, gemerincing uang logam di dalam kaleng bekas adalah penanda nasib yang stagnan. Namun bagi Mohammad Elman yang familiar dipanggil Elman Duro, bunyi itu adalah bahan bakar dari sebuah mimpi besar yang hampir mustahil. Siapa yang menyangka, seorang anak jalanan yang dulunya menghabiskan hari di bawah terik matahari demi beberapa keping rupiah, kini berhak menyematkan gelar Doktor (Dr.) di depan namanya. Elman Duro sendiri, berhasil merampungkan jenjang S3nya di UIN Maliki Malang, sebuah kampus ternama di Malang. Hari ini, Elman telah melaksanakan ujian promosi Doktoral di kota dingin itu dengan judul disertai “Adaptasi dan Integrasi Nilai Sosio-Edukatif dalam Pembelajaran Agama Islam pada Anak Pekerja Migran di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Mambaul Ulum Bata-Bata Madura,”.

Saat ini, Elman berprofesi sebagai Dosen di salah satu kampus negeri ternama di Madura yakni UIN Madura. Ini bukan sekadar cerita tentang kecerdasan akademik, melainkan kisah tentang perjalanan & keajaiban dari hebatnya untaian doa seorang ibu sebatang kara.

Elman kecil, hidup dengan ibu sebatang kara. Sempat memiliki ayah dan saudara, namun saat dirinya masih balita, Ia ditinggal sang ayah sejak berusia 8 bulan, lantaran sang ayah memiliki penyakit serius sampai membawanya meninggal dunia. Sementara saudaranya, juga menyusul sang ayah disaat Elman berusia 4 tahun. Dengan begitu, Elman hanya benar-benar menjalani hidup berdua dengan sang ibu.

Ditengah hidup keterbatasan, ibu Elman tetap semangat menjalani hari sebagai petani. Ibu Elman tidak menyerah pada keadaan. Ia selalu menekankan agar Elman terbiasa dengan memakan rezeki yang halal. Suatu hari, sang ibu juga berpesan pada Elman agar menjadi pribadi yang baik.

“Ibu itu pernah berbisik kepada saya, nak tiap satu batang padi dan pohon singkong niatkan ibadah, dan jika ada sisanya buat makan, makanan dari hasil bertani itu halal dan berkah, nak,” ucap Elman sambil meneteskan air mata.

Saat lulus dari SDN 2 Mapper Proppo, Elman berharap kepada sang ibu untuk menjadi petani karena Elman ingin membantu ibu yang sebatang kara, tapi lagi-lagi sang ibu menolak Elman menjadi petani, sang ibu tetap menginginkan Elman tumbuh besar dan hebat seperti anak pada umumnya. Akhirnya, Elman memilih mondok ke Mambaul Ulum Bata-bata karena di lingkungan Elman rata-rata mondoknya ke Bata-bata sampai lulus Madrasah Aliyah (MA) tahun 2005.

BACA JUGA :  PNS Bisa Ajukan Kenaikan Pangkat Setiap Bulan, Ini Syarat yang Perlu Diketahui

Setelah lulus MA, Elman masih merasa bingung karena rata-rata pemuda di lingkungan rumahnya menjadi perantau semua.

“Saya bingung antara bekerja menjadi anak rantau dan menjadi petani. Akhirnya saya memilih melalang ke kabupaten lain, Selang 3 tahun melanglang antar kabupaten, saya sempat menjadi loper koran, menjadi pengamen, menjadi tukang mebel, dan juga belajar membuat sandal dan mengantarkan hasilnya di sidoarjo,” papar Elman.

Debu Jalanan dan Senar Gitar

Kehidupan masa kecil dan remaja Elman di Sidoarjo tidak akrab dengan meja belajar yang nyaman atau tumpukan buku referensi. Jalanan adalah ruang kelasnya, dan petikan gitar usang adalah caranya bertahan hidup. Sebagai pengamen jalanan, Elman akrab dengan penolakan, tatapan sebelah mata, hingga kejaran petugas ketertiban.

Setiap kali Elman pulang membawa hasil mengamen yang tak seberapa, ketika pulang ke desa dan bertemu sang ibu tidak pernah lupa memeluknya. Di sepertiga malam, saat kota mulai senyap, Elman kerap terbangun dan melihat ibunya bersujud. Dalam kesendiriannya, sang ibu “mengetuk pintu langit”, memohon agar anaknya diselamatkan dari lingkaran kemiskinan melalui jalur pendidikan.

Tergerak oleh air mata ibunya, Elman membulatkan tekad. Ia mulai memanfaatkan waktu senggang di sela-sela mengamen untuk membaca buku bekas di perpustakaan daerah atau emperan toko.

Setelah itu, Elman dalam ambang kebingungan, ia merantau ke Malang kurang lebih 2 bulan. Di kota itu, ia mencari orang dermawan yang siap membiayai sekolahnya. Tapi belum saja tak kunjung bertemu. Memiliki tekad tinggi, Elman Setelah itu pindah ke Jember. Disana ia sambil kerja, dan sambil mencari lagi orang dermawan yang sanggup membiayai sekolahnya.

“Alhamdulillah di Jember itu ketemu dengan salah satu Habib di jalan mastrib, Namanya Habib Novel Al-Idrus, tepatnya sebelah kampus kedokteran. Tugas saya hanya menjadi imam sholat 5 waktu, sangat enteng rasanya karena sudah biasa di pondok dulu” ungkapnya.

BACA JUGA :  Jadwal PPG Tahap 3 Tahun 2025 Resmi Diumumkan, Ini Syarat dan Tanggal Pentingnya

Nasib tak berpihak kepada Elman, saat mau daftar di Fakultas Hukum Universitas Negeri Jember (UNEJ). Ada kendala yang mengharuskan Elman pulang ke Madura dan kuliah di STAIN Pamekasan (sekarang menjadi UIN Madura).

Dari situ, Elman hidup lebih dekat lagi dengan sang ibu. Ia bercerita, uang pendaftaran kampus saat mendaftar S1 didapat dari hasil bertani tembakau dengan sang ibu.

“Alhamdulillah, saya lulus pendaftaran dan masih ada sisa uang pendaftaran Rp 300.000. Sisa uang itu saya buat beli sepeda motor bodong GL100, belum sempat dipakai  ke kampus sudah bosan karena sering macet. Akhirnya ibu saya menjual kayu jati laku Rp 2.300.000 buat beli sepeda motor. Akhirnya dapat Fiz R. Itu saya pakai untuk kuliah pulang pergi,” ulas Elman.

Berstatus mahasiswa, Elman aktif di berbagai organisasi pesantren bernama Ikatan Mahasiswa Mambaul Ulum Bata-Bata (Imaba) dan aktif diorganisasi kemahasiswaan ektra kampus, yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Sementara di intra kampus aktif di teater dan Kopma (Koperasi Mahasiswa) dan mengantarkan dirinya sebagai Ketua BEM pada tahun 2011-2012, Pengurus Komiasariat PMII STAIN Pamekasan, Ketua II PC PMII Pamekasan, dan Pengurus Kordinator Cabang PMII Jawa Timur.

Berbekal ilmu dan relasi yang kuat selama berorganisasi, akhirnya Elman mampu membentuk pribadi yang mandiri. Ia akhirnya, memilih untuk memiliki pasangan hidup dengan meminang sang istri. Masa itu juga, Elman juga masih bisa melanjutkan pendidikan s2nya di UIN Madura dengan hasil biaya sendiri.

Lulus s2 di UIN Madura, ia diterima menjadi dosen PAI di S1 UIN Madura. Meski demikian, Elman tidak memadamkan semangatnya dalam meraih mimpinya. Saat ini ia memilih melanjutkan kariernya ke jenjang yang lebih tinggi. Saat ini ia melanjutkan s3 di UIN Maliki Malang dan memasuki tahap akhir, yakni ujian promosi Doktor.

BACA JUGA :  Selamat Jalan Sang Ensiklopedi Berjalan, In memoriam Sir Mashur Abadi

Selain berprofesi sebagai Dosen, Elman mengatakan, bahwa saat ini juga memiliki usaha di bidang interior rumah dengan pekerja anak muda di desanya dengan niatan minimalisir pengangguran dan menjauhkan anak muda dari hal-hal negatif. Usaha ini sudah ia bangun mulai sejak tahun 2015 hingga sekarang.

“Sekarang menjual plafon dengan segala jenis, rangkap atap baja ringan, kanopi, tiang dan juga lisplan,” tuturnya.

Dengan menjalankan usaha interior rumah ini, Elman sekarang merasa senang dan bahagia karena bisa membantu orang yang ada di sekitarnya melalui jalan wirausaha hingga akhirnya usaha ini di beri nama “Potre Anom Plafon”.

“Untuk hasilnya, alhamdulillah bagus Karena pekerjanya bujang dan kinerja mereka maksimal, sementara bahan yang kita pakai yang super,” Imbuh Elman.

Selain menjadi pengusaha plafon, mantan Ketua  PAC Ansor Proppo dan anggota pengurus Cabang (PC) Ansor Pamekasan itu juga tercatat sebagai tenaga edukatif di UIN Madura. Bahkan kini, ia dipercaya sebagai Ketua IKA Pasca Sarjana UIN Madura.

Kini, Elman tidak hanya menjadi kebanggaan ibunya, tetapi juga simbol harapan bagi jutaan anak jalanan lainnya. Ia membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah vonis mati untuk masa depan.

“Saya adalah bukti hidup bahwa tidak ada dinding yang terlalu tebal untuk ditembus oleh kerja keras, dan tidak ada takdir yang terlalu kelam untuk diubah oleh doa seorang ibu,” pungkas Elman dengan mata berkaca-kaca.

Dari jalanan yang keras, menuju panggung akademik yang terhormat; Elman dan ibunya telah menulis ulang takdir mereka dengan tinta emas.

Meski namanya terus melesat, kepribadian Elman tak pernah berubah seperti sedia kala. Ia tetap berbaur dengan teman sebayanya, bahkan tak pernah merasa jumawa. Ia sadar diri, bahwa dirinya memulai semuanya berangkat dari bawah. Itulah alasan Elman tetap menjaga diri dan rendah hati.

Oleh: Ach. Syarofi, M. Pd (Kepala Perpustakaan STAIFA Pamekasan & Dosen PBA UIN Madura) 
Oplus_0
previous arrow
next arrow