Scroll untuk melanjutkan membaca
Artikel

Antara Ruang Terbatas atau Gerak Tak Terbatas, Perjuangan Komunitas Tari Modern Buka Identitas Baru

Avatar
×

Antara Ruang Terbatas atau Gerak Tak Terbatas, Perjuangan Komunitas Tari Modern Buka Identitas Baru

Sebarkan artikel ini
Adinda Salsabila, Penulis Artikel (Foto/Dok. Terukur.id)

Di tengah kuatnya tradisi religius dan aturan daerah bernuansa syariah, komunitas tari modern di Pamekasan berjuang meruntuhkan stigma sekaligus menghadirkan ekspresi positif bagi generasi muda.

Pamekasan, sebuah kota yang dikenal dengan ikon “Gerbang Salam,” memiliki identitas budaya yang kuat, berlandaskan nilai-nilai religius. Di tengah kentalnya tradisi dan norma tersebut, kehadiran tari modern seringkali dianggap sebagai budaya luar yang tidak sejalan dengan identitas lokal.

Pandangan ini diperkuat oleh Peraturan Daerah (Perda) Syariah yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk ekspresi seni. Akibatnya, para penari muda di Pamekasan menghadapi tantangan unik, mereka harus berjuang meruntuhkan stigma dan membuktikan bahwa tari modern bukanlah ancaman terhadap eksisten budaya lokal, melainkan wadah ekspresi yang relevan dan positif.

Bagi banyak anak muda di Pamekasan, tari modern, seperti hip-hop, breakdance, atau kontemporer, adalah sarana untuk berekspresi dan menyalurkan energi kreatif. Namun, mereka seringkali dihadapkan pada pertanyaan skeptis: “Untuk apa menari seperti itu? Itu bukan budaya kita.” Stigma ini bukan hanya berasal dari masyarakat umum, tetapi juga dari pandangan bahwa seni yang tidak berakar pada tradisi lokal dianggap tidak bernilai atau bahkan merusak moral.

Meski harus berjuang melawan stigma negatif, para pegiat tari modern, khususnya mereka yang masih muda tidak menyerah, mereka membentuk komunitas-komunitas kecil, berlatih secara mandiri di ruang-ruang terbatas, dan berpartisipasi dalam ajang lokal maupun regional untuk menunjukkan bakat mereka. Mereka juga mulai mencoba mengintegrasikan unsur-unsur lokal, seperti gerakan tari tradisional ke dalam koreografi modern mereka. Ini adalah langkah cerdas yang menunjukkan bahwa tari modern dapat berkolaborasi dengan budaya lokal, bukan menggantinya atau bahkan menghapus budaya lokal Madura.

BACA JUGA :  Lowongan Kerja 30 Ribu KDKMP Resmi Dibuka, Lulusan D3 Bisa Daftar

Pamekasan, sebuah kota yang dikenal dengan slogan “Gerbang Salam”, memiliki identitas budaya yang kuat, berlandaskan nilai-nilai religius. Slogan ini muncul bukan tanpa alasan—pemerintah dan masyarakat berusaha menjaga Pamekasan agar tetap berpegang pada norma Islami dalam berbagai aspek kehidupan. Seni dan budaya tradisional, seperti musik Hadrah, Tari Topeng Madura, hingga Sape Sono’ (kontes sapi), menjadi bagian penting yang melekat dalam identitas masyarakat.

Kehadiran Tari Modern dengan stigma negatif yang beranggapan bahwa seni yang tidak berakar pada tradisi lokal dianggap tidak bernilai bahkan dianggap akan merusak moral generasi muda Madura dan Pamekasan pada khususnya. Beberapa orang tua masih khawatir anaknya akan terjerumus pada gaya hidup “kebarat-baratan” hanya karena ikut bergabung dalam Tari Modern.

Meski begitu, banyak penari muda tetap gigih berlatih. Seorang siswi SMA di Pamekasan, misalnya, menceritakan bahwa ia kerap diam-diam berlatih bersama teman-temannya di garasi rumah. “Awalnya orang tua menentang, tapi setelah melihat kami ikut lomba dan pulang membawa piala, mereka mulai mengerti kalau ini juga sesuatu yang bisa dibanggakan,” tuturnya.

Kisah-kisah seperti ini menunjukkan bahwa perubahan persepsi seringkali dimulai dari hal-hal kecil.

Kendala ruang dan dukungan seorang pelatih tari modern, Ajie Triwikrama Hidayat, mengungkapkan bahwa kendala terbesar justru terletak pada keterbatasan ruang, promosi, hingga perizinan. Menurutnya, stigma negatif bahwa tari modern identik dengan hal vulgar masih sering muncul, padahal kostum dan gerakan bisa disesuaikan dengan konteks acara. “Yang kami hadirkan justru energi positif dan ekspresi sehat bagi anak muda,” ujarnya.

BACA JUGA :  Jurusan Kuliah dengan Gaji Tinggi, Berikut Daftar Lengkapnya

Ajie berharap pemerintah memberi dukungan lebih, agar tari modern dapat tumbuh berdampingan dengan seni tradisi dan memperkaya wajah kesenian Pamekasan.

Menariknya, komunitas tari di Pamekasan mulai mencari jalan tengah agar tari modern bisa berkolaborasi dengan budaya lokal. Mereka berupaya mengintegrasikan unsur-unsur lokal ke dalam koreografi modern. Misalnya, gerakan khas tari topeng atau musik saronen Madura dipadukan dengan alunan hip-hop. Langkah ini tidak hanya menciptakan gaya unik, tetapi juga menjadi bukti bahwa seni tradisional dan modern bisa saling menguatkan.

Terlebih di beberapa daerah lain, seperti Surabaya atau Malang, kolaborasi ini sudah lebih maju. Festival seni kerap menampilkan pertunjukan lintas genre yang menggabungkan tarian tradisional dengan modern. Pengalaman itu bisa menjadi inspirasi bagi komunitas tari di Pamekasan, bahwa keterbukaan bukan berarti kehilangan identitas, melainkan memperluas ruang apresiasi.

Manfaat yang terabaikan banyak pihak mungkin belum menyadari bahwa menjadi penari modern membawa dampak positif yang signifikan. Selain menjaga kebugaran fisik, latihan rutin juga menumbuhkan disiplin, kerja sama tim, dan rasa percaya diri. Bagi remaja, kegiatan ini bisa menjadi alternatif sehat dibandingkan menghabiskan waktu di kafe atau nongkrong tanpa arah.

Lebih jauh, tari modern juga bisa menjadi jembatan sosial. Melalui kompetisi atau pertunjukan, anak muda belajar menghadapi tekanan, menerima kritik, sekaligus merayakan pencapaian. “Kami belajar bukan hanya soal gerakan, tapi juga tentang bagaimana menghargai orang lain dan bekerja keras,” kata seorang anggota Komunitas Tari Street Dance di Pamekasan.

Selain itu, perkembangan teknologi digital memberi ruang baru bagi komunitas tari modern. Platform seperti media sosial TikTok, Instagram, dan YouTube dimanfaatkan sebagai wadah untuk menunjukkan karya, berkolaborasi, sekaligus mencari pengakuan yang mungkin sulit mereka dapatkan di ruang-ruang lokal. Dengan cara ini, bakat mereka bisa dikenal lebih luas, bahkan hingga ke luar negeri.

BACA JUGA :  Ingin Cepat Kurus? Begini Waktu Olahraga yang Paling Efektif Membakar Lemak

Beberapa komunitas sudah mulai memanfaatkan media digital ini untuk membuat video kreatif, mengunggah hasil koreografi, hingga ikut serta dalam challenge global. Hal ini bukan hanya membuka peluang lebih besar, tetapi juga membantu mengubah pandangan masyarakat lokal: bahwa anak-anak muda Pamekasan juga bisa berprestasi di ranah internasional, tanpa meninggalkan identitas daerahnya.

Harapan ke depan meskipun jalannya terjal, ada optimisme yang tumbuh di kalangan komunitas tari modern Pamekasan. Dengan semakin terbukanya akses informasi dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya seni sebagai media ekspresi, pandangan masyarakat perlahan mulai berubah.

Dukungan pemerintah, sekolah, dan masyarakat sangat dibutuhkan agar tari modern tidak lagi dipandang sebelah mata. Bayangkan bila Pamekasan berhasil menggelar festival seni yang mempertemukan tari tradisional dan modern dalam satu panggung—hal ini bisa menjadi magnet baru pariwisata dan memperkuat citra Gerbang Salam sebagai kota yang menghargai keberagaman ekspresi seni.

Pada akhirnya, seni adalah cerminan zaman. Jika seni tradisi mencatat jejak masa lalu, maka tari modern mencerminkan semangat generasi sekarang. Dengan kolaborasi yang bijak, keduanya bisa berjalan beriringan, menjadikan Pamekasan tidak hanya kota yang religius, tetapi juga kota yang ramah pada kreativitas anak muda sekaligus menjadi identitas baru, Kabupaten Pamekasan.

 

Penulis : Adinda Salsabila
IMG-20260504-WA0013
previous arrow
next arrow