Pamekasan – UIN Madura menjadikan peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai ruh utama International Conference on Islamic Studies (ICONIS) ke-10 tahun 2026. Untuk pertama kalinya di Pulau Madura, momentum besar ini diangkat ke ruang akademik internasional untuk meneladani pemikiran dan perjuangan ulama revolusioner Nusantara. (09/09/2026)
ICONIS ke-10 yang digelar UIN Madura ini tidak sekadar konferensi biasa. Forum ini menjadi panggung untuk membaca ulang sosok Syekh Yusuf sebagai ulama, intelektual, pendakwah, sekaligus pejuang yang gagasannya melampaui batas wilayah dan zaman.
“Kampus Tanean Lanjang” Integrasikan Ilmu dan Spiritualitas
Rektor UIN Madura, Syaiful Hadi, menegaskan bahwa Syekh Yusuf memiliki posisi sentral dalam membentuk karakter sosial-keagamaan masyarakat Madura.
“Kita meyakini bahwa kehadiran Syekh Yusuf Al-Makassari ke Madura ini dinamika sosialnya adalah sosial keagamaan. Saya meyakini juga bahwa Madura dengan dimensi-dimensi spiritualitas yang kuat ini pasti ada pengaruh juga dari pola dakwah yang beliau lakukan,” ujar Syaiful Hadi.
Lebih dari figur sejarah, Syekh Yusuf diposisikan UIN Madura sebagai sumber inspirasi perubahan. Warisan ilmu, dakwah, dan perjuangannya dinilai relevan untuk menjawab tantangan zaman.
“Memelihara dinamika spiritualitas Madura ini, kita juga ingin ada kontribusi yang kuat dari simpul kampus dengan meletakkan apa yang kita sebut dengan _kampus Tanean Lanjang_, tentang integrasi ilmu pengetahuan Islam dengan dinamika kehidupan sosial yang lebih luas,” katanya.
Angkat Warisan Lokal ke Panggung Dunia
Perhatian internasional juga hadir dalam ICONIS ke-10. Faried F. Saenong mewakili Kementerian Agama RI menegaskan, pengaruh Syekh Yusuf tidak berhenti di Nusantara.
“Ini adalah peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari yang sangat berpengaruh di dunia Islam dan bahkan dirayakan oleh UNESCO,” ujar Faried.
Menurut Faried, Syekh Yusuf adalah bukti bahwa seorang intelektual Muslim bisa berorientasi global tanpa kehilangan identitas lokalnya. Karena itu, ICONIS 2026 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mengangkat kembali warisan tokoh tersebut.
Bagi UIN Madura, semangat Syekh Yusuf adalah tentang keberanian intelektual dan spiritual. ICONIS kemudian diarahkan menjadi ruang temu akademisi regional, nasional, hingga internasional untuk menggali pemikiran Syekh Yusuf sebagai inspirasi membangun tradisi intelektual, spiritualitas, dan perubahan sosial.
“Melalui momentum 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari, UIN Madura ingin menegaskan kembali bahwa warisan seorang tokoh tidak berhenti pada makam, manuskrip maupun catatan sejarah. Warisan itu hidup ketika gagasan dan keberaniannya mampu menginspirasi masyarakat untuk membangun kehidupan yang lebih berkeadaban, berkeadilan dan berlandaskan nilai-nilai Islam,” pungkas Syaiful Hadi.
Dengan ICONIS ke-10, UIN Madura menegaskan perannya sebagai simpul akademik yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menghidupkannya untuk peradaban. (KB/Rosy)



























