Scroll untuk melanjutkan membaca
Artikel

Madura Gerbang Salam, Dari Tanah Leluhur Menuju Perdamaian Abadi

Avatar
×

Madura Gerbang Salam, Dari Tanah Leluhur Menuju Perdamaian Abadi

Sebarkan artikel ini
Oplus_0
previous arrow
next arrow

Sebentar lagi Pamekasan memasuki usia 496 tahun.

Hampir lima abad perjalanan sebuah wilayah, sebuah masyarakat, sebuah kebudayaan—dan sebuah ingatan kolektif yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Tanggal 3 November 1530 ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Pamekasan, bertepatan dengan naik tahtanya Pangeran Ronggosukowati. Dari masa itulah sejarah Pamekasan menemukan salah satu tonggak pentingnya sebagai sebuah pusat pemerintahan.

Namun sebuah hari jadi sesungguhnya bukan hanya tentang menghitung usia.

Ia adalah kesempatan untuk bertanya:

apa yang telah kita warisi, dan apa yang akan kita wariskan?

⸻

Dari Ronggosukowati menuju masa depan

Ronggosukowati bukan sekadar nama yang disimpan dalam buku sejarah.

Ia adalah pintu untuk membaca kembali perjalanan Madura: bagaimana kekuasaan, kebudayaan, agama, perdagangan, pendidikan, masyarakat, dan kehidupan sehari-hari bertemu serta membentuk sebuah peradaban.

Bahkan semboyan yang dikaitkan dengan masa Ronggosukowati—“Mekkas Jatna Paksa Jenneng Dibi’”—memuat gagasan tentang kemampuan berdiri dengan kekuatan sendiri.

Tetapi kemandirian tidak harus berarti berjalan sendirian.

Justru sebaliknya:

Manusia yang kuat adalah manusia yang mampu berdiri dengan kakinya sendiri,

tetapi tetap membuka tangannya untuk menolong sesamanya.

Di situlah kebudayaan menemukan maknanya.

⸻

Pekan Festival Budaya 2026

Karena itu, Pekan Festival Budaya 2026 dapat dibaca lebih jauh daripada sekadar rangkaian pertunjukan.

Dewan Kesenian Pamekasan merencanakan festival budaya pada 25–31 Oktober 2026, dengan menghadirkan berbagai unsur kebudayaan lokal—antara lain batik, keris, garam, tembakau, ramuan Madura, kuliner, dan sejarah Pamekasan.

Festival menjadi ruang perjumpaan.

Seniman bertemu masyarakat.

Generasi tua bertemu generasi muda.

Tradisi bertemu kreativitas.

Desa bertemu kota.

Sejarah bertemu masa depan.

Dan mungkin, yang paling penting:

manusia bertemu kembali dengan dirinya sendiri.

BACA JUGA :  7 Jurusan Kuliah dengan Prospek Karier Cerah di Industri Digital

Sebab kebudayaan yang hidup bukan kebudayaan yang hanya dipajang.

Kebudayaan adalah cara sebuah masyarakat mengingat siapa dirinya.

⸻

Madura adalah salah satu organ Nusantara

Republik Indonesia tidak lahir dari ruang kosong.

Ia lahir dari pertemuan berbagai sejarah, kerajaan, kesultanan, komunitas, bahasa, agama, tradisi, pelabuhan, perdagangan, perjuangan, dan kebudayaan yang telah hidup jauh sebelum negara modern Indonesia berdiri.

Dalam mosaik besar Nusantara itu, Madura adalah salah satu bagiannya.

Bukan sekadar halaman tambahan.

Madura adalah salah satu organ dari tubuh besar Nusantara.

Karena itu mencintai Madura tidak harus berarti menjauh dari Indonesia.

Sebaliknya:

Semakin dalam seseorang memahami akar budayanya,

semakin luas seharusnya kemampuannya menghargai akar budaya orang lain.

Dari lokal menuju nasional.

Dari nasional menuju kemanusiaan.

⸻

Dari akhlaq menuju kepemimpinan

Di sinilah kita sampai pada pertanyaan yang lebih dalam.

Bagaimana melahirkan kepemimpinan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlaq?

Mungkin jawabannya bukan semata-mata dengan mencari manusia yang sempurna.

Sebab manusia sempurna tidak ada.

Yang mungkin kita bangun adalah ekosistem sosial yang membuat akhlaq tumbuh.

Akhlaq bukan hanya sopan santun.

Akhlaq adalah cara manusia menempatkan dirinya di hadapan Tuhan, sesama manusia, alam, kehidupan, dan dirinya sendiri.

Dalam pengertian filosofis:

Akhlaq adalah keseluruhan tata nilai yang mengatur hubungan manusia dengan seluruh kehidupan.

Maka pemimpin yang berakhlaq bukan hanya pemimpin yang pandai berbicara tentang kebaikan.

Ia adalah seseorang yang mampu mengubah nilai menjadi tindakan:

adil ketika memiliki kekuasaan, jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbohong,

rendah hati ketika dipuji, teguh ketika diuji, dan tetap manusiawi ketika berhadapan dengan mereka yang berbeda.

BACA JUGA :  7 Tahapan Wajib Setelah Lolos SNBP 2026, Jangan Sampai Terlewat!

⸻

Simulasi sosial: belajar memimpin melalui kehidupan

Karena itu, pendidikan kepemimpinan tidak harus dimulai dari gedung parlemen atau ruang kekuasaan.

Ia dapat dimulai dari masyarakat.

Dari kampung.

Dari desa.

Dari komunitas.

Dari meja makan.

Dari membersihkan lingkungan bersama.

Dari membantu tetangga.

Dari mengelola koperasi.

Dari menjaga sungai.

Dari menghidupkan kesenian.

Dari mendampingi anak muda.

Dari menyelesaikan konflik tanpa mempermalukan siapa pun.

Inilah yang dapat disebut sebagai simulasi sosial:

masyarakat belajar mempraktikkan nilai-nilai kehidupan sebelum nilai tersebut diterjemahkan menjadi kepemimpinan yang lebih luas.

Karena seseorang yang belum mampu mengurus hubungan kecil dengan adil, belum tentu siap mengurus persoalan yang jauh lebih besar.

⸻

Gotong royong sebagai laboratorium akhlaq

Dan mungkin di sinilah gotong royong mendapatkan makna filosofisnya.

Gotong royong bukan sekadar bekerja bersama.

Ia adalah latihan untuk keluar dari ego.

Aku tidak hanya bertanya:

“Apa yang aku dapat?”

Tetapi mulai bertanya:

“Apa yang bisa kita bangun bersama?”

Dari sana lahir kepercayaan.

Dari kepercayaan lahir solidaritas.

Dari solidaritas lahir masyarakat.

Dan dari masyarakat yang memiliki solidaritas, perlahan tumbuh kemungkinan hadirnya keadilan sosial.

Gotong royong menjadi semacam laboratorium akhlaq.

Di dalamnya manusia belajar berbagi tenaga, waktu, pikiran, kesempatan, bahkan kesabaran.

⸻

Dari Madura untuk Nusantara

Maka momentum 496 tahun Pamekasan dapat menjadi lebih daripada perayaan masa lalu.

Ia dapat menjadi ruang untuk membayangkan masa depan.

Madura yang berakar.

Madura yang terbuka.

Madura yang berbudaya.

Madura yang berakhlaq.

Madura yang berdiri dengan martabatnya.

Dan Madura yang ikut menyumbangkan kebijaksanaannya bagi Nusantara.

Sebab masa depan Indonesia tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik.

BACA JUGA :  BSU Oktober Cair? Cek Aturan Resminya

Ia membutuhkan manusia yang mampu hidup bersama.

Dan mungkin masa depan dunia juga demikian.

⸻

GERBANG SALAM

Maka kita boleh membaca Madura dengan sebuah metafora:

Madura sebagai Gerbang Salam.

Salam bukan sekadar ucapan.

Salām adalah doa keselamatan.

Keselamatan bagi manusia.

Keselamatan bagi masyarakat.

Keselamatan bagi alam.

Keselamatan bagi generasi yang akan datang.

Gerbang berarti tempat masuk.

Maka Gerbang Salam adalah sebuah undangan:

masuklah melalui pintu kebudayaan, berjalanlah melalui pintu persaudaraan, bertemulah melalui pintu gotong royong, dan tinggalkan ego di luar pintu.

Karena pada akhirnya, perjalanan kebudayaan bukanlah perjalanan untuk membuktikan siapa yang paling besar.

Melainkan perjalanan untuk menemukan:

bagaimana kita dapat hidup bersama tanpa kehilangan jati diri.

⸻

Selamat Hari Jadi Pamekasan ke-496

Selamat untuk Pamekasan.

Selamat untuk Madura.

Selamat untuk para leluhur yang meninggalkan jejak.

Selamat untuk para seniman yang menjaga api kebudayaan.

Selamat untuk generasi muda yang akan meneruskan perjalanan.

Semoga Pamekasan terus menjadi tanah tempat sejarah dihormati, kebudayaan dihidupkan, perbedaan dirawat, dan masa depan dibangun bersama.

Madura—Gerbang Salam.

Gerbang keselamatan.

Gerbang persaudaraan.

Gerbang kebudayaan.

Dan semoga, dari sebuah tanah kecil di Nusantara, tumbuh sebuah pesan yang jauh lebih besar:

Bahwa manusia tidak diciptakan untuk saling menaklukkan,melainkan untuk saling menjaga.

Bahwa kebudayaan tidak diciptakan untuk memisahkan, melainkan untuk memperkaya perjumpaan.

Dan bahwa akhlaq adalah jembatan

yang menghubungkan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Yang Maha Menjaga kehidupan.

Dari Madura, kita mengetuk pintu Nusantara.

Dari Nusantara, kita membuka pintu dunia.

Salam.

Selamat.

Damai.

Madura Gerbang Salam.

Amstrdam, 2026, Syafiih Kamil, Tokoh Diaspora Belanda
Oplus_0
previous arrow
next arrow