Scroll untuk melanjutkan membaca
Peristiwa

Peringati Hari Santri 2026, Rektor UIN Madura Bacakan Amanat Menag: Santri Bisa Jadi Apa Saja

Avatar
×

Peringati Hari Santri 2026, Rektor UIN Madura Bacakan Amanat Menag: Santri Bisa Jadi Apa Saja

Sebarkan artikel ini
Peringatan Hari Santri 2026 di UIN Madura, (Foto/IG UIN Madura)

Pamekasan – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Universitas Islam Negeri (UIN) Madura berlangsung khidmat. Seluruh pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan mengikuti upacara yang digelar di lingkungan kampus, Kamis (22/10/2026).

Upacara dipimpin langsung oleh Rektor UIN Madura, Dr. H. Saiful Hadi, selaku pembina upacara. Dalam kesempatan itu, Rektor membacakan amanat resmi Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.

Mengusung tema nasional “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, peringatan tahun ini menegaskan bahwa peran santri tidak lagi hanya di bilik pesantren, melainkan menjadi penentu masa depan bangsa.

BACA JUGA :  Komisi II DPRD Pamekasan Sidak SPBU Asem Manis Usai Nelayan Ngeluh Solar Langka

Dalam amanatnya, Menteri Agama mengajak seluruh santri untuk melanjutkan perjuangan ulama dan pendahulu tidak lagi dengan bambu runcing, tetapi dengan karya nyata.

“Jika dahulu para santri menguatkan negeri dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, maka hari ini santri harus menguatkan negeri dengan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan tentu saja akhlak mulia,” demikian petikan amanat Menag yang dibacakan Rektor.

BACA JUGA :  Pamekasan Tuan Rumah Harkopnas Jatim: Pertumbuhan 7,76% Bukti Koperasi & UMKM Jadi Tulang Punggung

Menag menegaskan, santri tidak boleh minder dan membatasi cita-citanya. Santri memiliki potensi untuk menjadi apa saja tanpa harus meninggalkan tradisi pesantren.

“Santri tidak boleh merasa kecil dan tidak boleh membatasi diri. Santri bisa menjadi apa saja, mulai dari ulama, ilmuwan, pendidik, pengusaha, hingga pemimpin bangsa,” tegasnya.

Lebih lanjut, Menag juga menyoroti tiga fungsi utama pesantren yang harus terus diperkuat: pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Ketiga fungsi inilah yang menjadi modal besar pesantren dalam membangun karakter bangsa, memperkuat kerukunan, hingga mendorong kemandirian ekonomi umat.

BACA JUGA :  Yudisium Ke-4 STAIFA Pamekasan: Syairozi Tekankan Akhlak dan Profesionalisme Lulusan di Tengah Masyarakat

“Dengan menjalankan ketiga fungsinya secara optimal, pesantren akan semakin berperan dalam pembangunan nasional dan menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, tanpa kehilangan jati diri dan tradisi luhur yang menjadi kekuatannya,” tutupnya. (*/Rosy)

Oplus_0
previous arrow
next arrow